Heboh kesyahidan Ali Ghufron, Imam Samudra dan Amrozi…

Memang sebagian orang meragukan kesyahidan KAFILAH SYHADA’ trio mujahid dan mereka mengatakan bukan mujahidin bahkan mereka menuduh teroris. Maka harus dijelaskan kepada mereka tanpa keraguan, BAHWA MEREKA ADALAH PARA MUJAHID DAN KEMATIAN MEREKA ADALAH SYUHADA’, Insya Allah.

Mengapa? Karena memberikan gelar syuhada kepada para mukmin mujahid yang syahid dimedan perang, adalah sunnah Rasulullah. Rasulullah saw telah memberikan titel Sayyidus syuhada (ketua para syhada) kepada Hamzah bin Abdul Muttalib. Adapun kepada mereka bertiga, pantas mereka mendapat titel tersebut karena beberapa alasan:

Pertama: Manhaj hidupnya jelas, mengikuti Salafus shalih. Lalu mereka berdakwah dan berjihad di jalan Allah untuk tegaknya syari’ah Allah. Sejak berumur belasan tahun sehingga kesyahidan menemui mereka, tak kenal penat dan lelah apalagi berhenti, dan itu berarti mereka telah memenuhi firman Allah,

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hajj 15:99)

Kedua: Prinsip hidup mereka juga terang, hanya ibadah kepada Allah dan menjauhi thoghut, sebagaimana firman Allah,

“Sembahlah Allah dan jauhilah thoghut” (QS. An-Nahl 16:36)

Itulah prinsip hidup mereka sehingga syahid, tidak pernah berkompromi dengan pemerintah thoghut dalam dakwah dan jihad demi tegaknya syari’ah Allah.

Ketiga: Jalan hidup mereka, adalah: Iman-Hijrah-Jihad, ini menunjukkan mereka mengamalkan firman Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqaroh 2:218)

Kemudian mereka menempuh perjalanan I’dad memenuhi firman Allah,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal 8:60)

Keempat: Peperangan mereka dan target musuhnya juga jelas, yaitu kuffar harbi, baik yahudi, nasrani, musyrikin, dan siapa saja yang tidak beragama dengan agama yang benar (yaitu Dienul Islam). Itu berarti mereka mengamalkan firman Allah,

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah 9:29)

Kelima: Cita-cita hidup tertinggi mereka ialah meraih Syahid, dan ini insya Allah sudah pun tercapai, itu bermakna mereka mengamalkan firman Allah,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah 9:111)

Dan tatkala kami bersama-sama di medan jihad, kami senantiasa mentelaah dan mendalami janji-janji dan pahala jihad dan mati syahid sebagai mana hadits berikut: Miqdam Ibnu Ma’dikariba berkata, bahwasanya Rasulullah bersabda: “Bagi orang yang syahid terdapat 6 hal yang akan diterimanya, yaitu: Pertama, Allah memberi ampunan ketika pertama kali bergerak dan akan melihat tempatnya di Jannah. Kedua, selamat dari siksa kubur. Ketiga, selamat dari goncangan hari kiamat. Keempat, akan diberikan kepadanya mahkota kebesaran yang terbuat dari permata Yaqut sebagai tanda kehormatan yang jauh lebih mahal daripada dunia seisinya. Kelima, akan dikawinkan dengan 72 bidadari bermata jeli. Dan keenam, dapat memberi syafa’at kepada 70 keluarganya.” (HR. Ahmad: 16553)

Keenam: Ketika mereka melakukan operasi jihad di Bali yang berakibat mereka di tangkap, diintrogasi kemudian diadili dan diputuskan hukuman mati, mereka menghadapinya dengan ikhlas, tenang, tabah, tidak emosi, gagah berani, tanpa menyerah dan lemah semagat kepada thoghut laknatullah, itu berarti mereka telah mengamalkan dan mengambil pelajaran dari firman Allah,

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran 3:146)

Kesabaran, keberanian, ketaqwaan dan tawakkal mereka, kerinduan mereka kepada syahid dapat disaksikan melalui ungkapan-ungkapan dan jawaban-jawaban dipengadilan dan selama berada dipenjara thoghut. Hidup mereka sibuk dengan dakwah meskipun dalam penjara, para nara pidana, para sipir mendapat keberkahan dengan dakwah mereka. Keteguhan iman dan kesabaran mereka bagaikan karang ditepi lautan, tidak bergerak meskipun diterpa oleh ombak dan badai. Mereka telah dizalimi selama 6 tahun dipenjara, waktu sebanyak itu mereka gunakan untuk beribadah, berzikir, bertaubat kepada Allah swt, dan sedikitpun dari waktu mereka tidak tersisa untuk taqarrub kepada Allah terutama menjelang eksekusi. Dengan demikian tidak ada keraguan bahwa mereka adalah kafilah syuhada, insya Allah.

Terbaru

8 thoughts on “Heboh kesyahidan Ali Ghufron, Imam Samudra dan Amrozi…

  1. Bismillah

    Siapakah yang ingin mati susah, hidup susah ? Tentu saja naluri kita mengatakan :

    ISY KARIMAN AU MUT KARIMAN
    Hidup Mulia atau Mati MULIA

    Siapa yang tidak mengenal mati syahid – sebagai resiko jihad fi sabillah – sebagai mati yang mulia ?

    Dikaitkan dengan kematian trio bomber yang dieksekusi pemerintah yang syah, lantaran membunuh ratusan manusia termasuk muslimin.
    Banyak pihak yang memastikan matinya mati syahid. Ini sama saja propaganda, marilah ikuti mereka, sang pahlawan, sang syuhada, sehingga kader BOM BALI III terkumpul dalam tempo sekejap akibat vonis syahid itu.
    Nauzubillahi min dzalik.

    Simak artikel “Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid !”
    http://matisangit.wordpress.com/2008/11/24/larangan-vonis-syahid-pada-personal-tertentu/
    http://www.darussalaf.org/stories.php?id=1320

    Semoga kita dapat kembali ke jalan benar. Semoga Allah memberkahi amalan kita semua. Amin.

  2. memandang penjahat sebagai pahlawan…
    memandang perang sebagai hal yang mulia…
    memandang pembunuhan sebagai tugas….
    semuanya itu berdasarkan perintah tuhan dan agama….
    ?????????

    Wah, aku jadi makin tau mutu agama anda!!!

  3. Pemerintah yang sah ???????
    menurut setan iya…dan menurut apa-apa yang mengikuti setan
    jelas-jelas pemerintahan itu menolak syari’at islam…koq bisa dibilang sah…caranya juga dengan cara yang batil….benar-benar syah…menurut setan…karena jalan itu hanya ada 2….jalan Allah dan jalan setan…Kalo gk ikut jalan Allah ya berarti ikut jalan setan. Kalau pemerintahan yang dianggap sah oleh pengikut setan itu menerapkan Syariah Islam…saya yakin gak ada bom bali itu. Semoga Allah merahmati mereka yang telah berjuang di jalannya….dan semoga Laknat Allah kepada para penghujat mujahidin…Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar

  4. “Peperangan mereka dan target musuhnya juga jelas, yaitu kuffar harbi, baik yahudi, nasrani, musyrikin, dan siapa saja yang tidak beragama dengan agama yang benar (yaitu Dienul Islam).”, waduh saya Kristen termasuk target musuh, waduh kalau saya jadi islamophobia saya salah?

    1. Tidak semua menjadi musuh…yang perlu digaris bawahi adalah “Kafir Harbi”. Ini istilah dalam Islam yg bermaksud yang memerangi Islam secara terang-terangan Dan mnghinanya…jika tidak, ya tidak menjadi musuh kok..:)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: