Mika Blog

Ya Rasulullah, izinkan aku berzina

Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Bayangkan apa yang anda akan katakan pada saat ada seorang anak muda, datang kepada anda dan meminta diidzinkan untuk berzina?

Kejadian ini bukan di warung atau di pasar, tapi terjadi di dalam salah satu masjid paling mulia di muka bumi ini, di masjid Nabawi.

Terbayang oleh kita betapa Rasul bisa membuat anak muda ini merasa begitu dekat dengan beliau dan bicara dengan sangat terbuka, bahkan untuk hal yang kita tahu ini sebagai salah satu dosa besar.

Orang-orang pun bergegas menghampiri pemuda itu dan menghardiknya. Dan mereka mengatakan, “Diam … Diam ….”

Sementara Rasul malah menyuruh pemuda tersebut mendekat kepada Rasulullah dalam jarak sangat dekat kemudian Rasulullah menyuruh pemuda itu untuk duduk.

Sungguh luar biasa! Zina adalah salah satu dosa besar yang hukumannya bagi si pelaku adalah di rajam sampai mati (kalau pelaku sudah menikah) atau didera dengan 100 kali cambukan untuk mereka yang masih bujangan.

Bukankah Rasulullah adalah orang yang paling pantas mengatakan bahwa itu haram dan dosa besar bagi pelakunya?

Tapi lihat bagaimana Rasulullah dengan kelembutannya memanggil pemuda itu untuk mendekat sangat dekat, bahkan meminta dia duduk berhadapan dengan Rasulullah.

Rasulullah mengatakan : “Apakah engkau suka kalau itu terjadi pada ibumu?”

Masya Allah beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam membuat permisalan yang mengangkat logika pemuda yang hampir padam karena terjangan syahwatnya.

Syahwat yang mendominasi dalam diri seseorang akan mematikan logika berfikirnya. Sehingga menjadi nekad dan tidak memperhitungkan resikonya.

Pertanyaan Rasulullah, “Apakah engkau suka kalau itu terjadi pada ibumu?”,menohok logika berfikirnya dan menyentuh perasaannya.

Lalu pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusan dirimu.”

Rasulullah berkata, “Dan begitu pula seluruh manusia tidak ingin engkau berzina dengan ibu-ibu mereka.”

Rasulullah berkata lagi, “Apakah engkau suka kalau itu terjadi pada anak perempuanmu?”

Pemuda itu kembali menjawab, “Tidak demi Allah ya Rasulullah semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusan dirimu”.

Rasulullah berkata, “Begitu pula seluruh manusia tidak ingin engkau melakukan itu kepada anak perempuan mereka.”

Rasulullah berkata lagi, “Apakah engkau suka kalau itu terjadi kepada saudara perempuanmu?”

Pemuda itu kembali menjawab, “Tidak demi Allah, semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusan dirimu”.

Rasulullah berkata, “Begitu pula seluruh manusia tidak ingin engkau melakukan itu kepada saudara perempuan mereka.”

Kemudian Rasul bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ayahmu berzina?”

Dia menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu.”

Rasul pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau engkau berzina dengan saudara perempuan ayah mereka.”

Kemudian Rasul bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ibumu berzina?”

Dia menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu.”

Rasul pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau engkau berzina dengan saudara perempuan ibu mereka.”

Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau kepada si pemuda itu seraya mendo’akannya :

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Setelah itupun si pemuda sama sekali tidak punya keinginan lagi untuk berzina.

Beginilah cara Rasulullah menghadapi seorang anak muda yang telah tertutupi akal fikirannya dengan syahwat yang menggebu-gebu.

Menghidupkan logikanya yang terpuruk dan menyentuh hatinya secara berulang. Padahal Nabi bisa melakukan itu dalam satu kali nasehat. Tapi Nabi mengulangnya sampai beberapakali.

Dan terakhir beliau mendoakannya. Inilah yang sering kita lupakan. Betapa jarangnya kita mendoakan agar orang-orang yang telah melakukan kesalahan agar ia berubah menjadi baik.

Terkadang saat kesalahan itu terjadi pada diri anak-anak kita. Kita lebih cenderung mengingatkan kepada dirinya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Tapi lupa meminta kepada sang pemilik hati agar ia terhindar dari kesalahan yang ia lakukan itu.

Mahligai Cinta

Suatu hari datang seorang ibu,
ingin beliau kenalkan ku pada gurunya,
guru yang sudah banyak mengajarkan ia banyak hal,
entah berapa lama beliau sudah berguru…

Ibu itu berkata pada ku,
Nak, ibu punya guru,
dia mengajari ibu banyak hal,
dia juga butuh pendamping agar sempurna Imannya…

Entah ketika itu apa yang ada dalam pikiran ini,
entah itu jawaban dari do’a-do’a ku,
ataukah hanya kebetulan saja ibu itu mengenalkan dia padaku,
atau memang jawaban dari do’a ku yang selalu kupinta pada-Nya…

Hari itu janjian pertemuaan tidak terjadi,
dan kufikir, ahh.. sudahlah,
tak kejadian mungkin, bukan waktunya,
tapi yang kuyakini pasti di lain waktu kan bertemu…

berjalannya waktu,
ketika itu bulan Ramadhan,
bulan indah nan barakah,
dia hadir kembali, tapi hadirnya tak disengaja…

tak disengaja karna tak terencana seperti sebelumnya,
dia hadir kerena ikatan pertemanan yang sama,
istri dari temen ku dan temannya sama-sama berteman,
disitu awal mula dari Mahligai Cinta ini…

Ya Rabbana… Engkau Maha adil,
Engkau Maha Tahu akan segala isi hati ini,
Engkau juga yang Maha Membolak balikkan hati,
Kau berikan jalan untuk mengenalinya begitu indah,
Bahkan aku pun tak tau ia lah tulang rusukku yang hilang…

Terjalinlah komunikasi perkenalan,
Terbangun pula rasa cinta,
bulan Dzul Qa’dah, menjadi saksi cinta ini,
Alhmdulillah ya Rabbana…

Rabbi, jadikan Mahligai Cinta ini berkekalan,
berkekalan hingga di Syurga Firdaus-Mu,
Rahmati kami, berkahi kami,
jauhkan kami dari kemaksiatan pada-Mu,
Bimbinglah kami menjalankan bahtera Mahligai Cinta ini,
seperti yang telah Engkau ajarkan pada baginda Rasul Mulia,
Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam…

Karuniakan kami keturunan yang Shalih dan Shalihah,
agar mereka dapat beribadah dan ta’at akan perintah-Mu,

Ya Allah.. Yang Maha akan segalannya…

Madinah, Sya’ban 1439
untukmu, tulang rusukku…

Kisah dari bumi Jihad Syam

Sebuah kisah nyata dari bumi jihad syam. Kisah tentang seorang pemuda yang mengangkat senjata demi menegakkan izzah islam dan kaum muslimin. Koresponden arrahmah.com menjumpainya di sela-sela pertempuran di kota Aleppo, Suriah.

Ia bernama Khabbab Asy-Syami, seorang pemuda yang berasal dari Idlib. Pemuda ini berakhlaq baik dan juga sangat mudah dalam bergaul. banyak teman seperjuangannya mencintainya karenanya. Dan yang lebih membuat kedekatan diantara mereka, adalah Khabbab suka menghibur teman temannya tersebut dengan candaannya yang menghibur.

Kisah tentang Khabbab adalah kisah seorang pemuda yang berjihad akan tetapi mengangkat sisi yang unik dari seorang manusia.

Ada sebuah peribahasa, “tiada gading yang tak retak”, ungkapan bagi manusia yang tak sempurna dan memiliki kekurangan dalam hal tertentu.

Begitu juga Khabbab, sang Mujahid yang satu ini mempunyai banyak kelebihan, tapi juga punya kelemahan.

Kelemahan dari Khabbab ini adalah ia tidak bisa menahan tidurnya, dan juga susah sekali untuk dibangunkan bila sudah tidur. Orang biasa menyebutnya tidur kebo, untuk tidur yang seperti ini tingkat keparahannya. Hingga terjadi beberapa peristiwa lucu akibat dari kebiasaan buruknya ini.

Khabbab bercerita kepada koresponden arrahmah.com tentang peristiwa yang dialaminya semasa perang di pedesaan Khan Saikhun, provinsi Idlib, pada bulan Oktober tahun 2014 silam.

Kala itu Mujahidin melakukan penyerangan ke basis tentara Syiah rezim Bashar Asad, dan dengan karunia Allah Mujahidin mampu merebut sebuah wilayah dari kekuasaan tentara rezim Bashar Asad, yaitu sebuah desa di pinggiran Idlib yang menjadi markas komando tentara.

Setelah berhasil membebaskan sebuah wilayah, Mujahidin mengendalikan kontrol wilayah tersebut dengan mengadakan penjagaan (ribath) yang memakan waktu berhari-hari.

Khabbab sendiri ikut serta dalam operasi tersebut. Dengan taat dia melaksanakan tugasnya dalam peperangan dan juga ribath.

Tentunya bukanlah suatu hal yang mudah, jadwal kerja yang sangat pedat membuat seluruh Mujahidin lelah, hal ini di ketahui oleh komandan Mujahidin. Sehingga diambil kebijakan untuk ribath bergiliran seluruh anggota Mujahidin. Siapa yang telah selesai perang dan ribath, maka digantikan oleh anggota yang telah mendapat waktu istirahat. Bbegitulah kira kira kebijakan dari komandan Mujahidin.

Singkat cerita karena sudah melaksanakan tugasnya, maka Khabbab mendapatkan gilirannya untuk beristirahat di markas Mujahidin. Mereka menempati sebuah rumah kosong yang kemudian mereka bersihkan, dan selanjutnya mereka jadikan markas.

Nama dari markas itu adalah markas 45 Khan Saikhun.

Tentang nama markas 45 sendiri digunakan nama tersebut untuk mempermudah mengingat suatu nama tempat dan mempermudah panggilan komando.

Markas ini adalah sebuah bangunan berlantai 2, yang ditinggalkan pemiliknya karena perang, yang memiliki banyak ruangan, baik ruangan atas maupun di bawahnya.

Suasana malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Jika hari-hari biasanya malam terasa sunyi senyap, tapi malam itu dipenuhi dentuman bom dari tentara rezim.

Hal itu disebabkan Karena mereka kehilangan daerah yang dikuasainya, tentara rezim berusaha menghancurkan markas-markas Mujahidin dengan serangan udara mereka. Alhasil dari pengumpulan data udara, terlacaklah markas 45 Khan Saikhun.

Lewat tengah malam, angkatan udara rezim Asad menerbangkan 2 helikopter untuk menggempur markas 45. Setiap helikopter membawa 3 bom barmil berkekuatan ledak tinggi, dan diperkirakan 1 barmil itu berbobot lebih dari 100 kg. Sebuah senjata pemusnah yang mengerikan.

Kedua helikopter tersebut bergerak menuju ke arah markas 45 Khan Saikhun. Untungnya pergerakan helikopter ini segera diketahui oleh Mujahidin, di sebabkan oleh suara helikopter di udara yang mendekat ke arah markas.

Para ikhwah Mujahidin berteriak kepada teman-temannya yang di dalam markas untuk segera bangun dan meninggalkan markas, karena bahaya mengancam keselamatan mereka. Jumlah mereka kala itu sekitar 20 orang dan Khabbab ada di antara mereka.

Karena dirasa teriakan untuk membangunkan sudah sangat keras, dan dikira semua sudah keluar dari markas, maka komandan regu memberitahukan kepada mereka untuk menyebar mencari tempat perlindungan yang jauh dari markas.

Akan tetapi teriakan keras teman-temannya tak mampu untuk membangunkan Khabbab. Dia masih saja tertidur pulas di salah satu ruangan di lantai bawah markas 45.

Persis sesaat kemudian, selepas Mujahidin berpencar untuk mencari perlindungan, helikopter menjatuhkan semua bom barmilnya ke arah markas 45 Khan Saikhun.

Sebuah pemandangan mengerikan dimana bangunan tersebut dihujani 6 bom barmil sekaligus, untuk melumatkan bangunan tersebut. Markas 45 Khan Saikhun rubuh ke tanah diterpa bom barmil helikopter tentara rezim.

Selepas helikopter pergi menjauh, Mujahidin memeriksa keadaan markas untuk menyelamatkan barang yang masih bisa di selamatkan.

Komandan regu sendiri sibuk mengecek jumlah pasukan yang ada di markas. Sang komandan mulai mengumpulkan anggotanya untuk diketahui keadaan dan keselamatannya. pengecekan berubah menjadi kepanikan saat disebutkan nama Khabbab. Semua ikhwah saling bertanya di mana keberadaannya, sahut menyahut memanggil namanya berharap mendapat jawab dari Khabbab.

Maka dicarilah Khabbab oleh para ikhwah di bawah reruntuhan markas. Semua ikhwah bahu-membahu untuk mencari Khabbab di bawah reruntuhan bangunan. Hampir seluruh ruangan di markas tersebut hancur dan rubuh ke tanah, tapi ada sebuah ruangan yang masih agak utuh. Ruangan tersebut ada di lantai bawah dari bangunan tersebut.

Salah satu ikhwah masuk ke dalam ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Khabbab. Diselimuti debu hitam yang sangat pekat dan aroma sisa bahan peledak yang menyengat, sang ikhwah menyingkirkan sisa sisa robohan bangunan.

Akhirnya di temukannya sesosok jasad yang tertimbun tebalnya debu hitam dan kerikil. Jasadnya terlihat masih utuh tanpa luka yang berarti. Sang ikhwah mulai membersihkan muka dari jasad tersebut, dan tampaklah muka Khabbab terbujur kaku layaknya orang yang meninggal dunia. Seketika pecahlah suasana hening di reruntuhan bangunan itu.

Derai tangis sahabat Khabbab dan teriakan takbir menyeruak menyambut gugurnya syuhada.

“Khabbab syahid! Khabbab syahid! Khabbab syahid!” Teriakan para ikhwah sambil menggotong jenazah Khabbab.

Mobil ambulans yang beberapa saat sesudah kejadian dipanggil oleh Mujahidin, segera mempersiapkan mengangkut Khabbab ke RS. Kemudian dengan didampingi beberapa temannya, jenazah Khabbab segera meluncur pergi dari tempat kejadian. Mobil ambulans melesat dengan sangat kencangnya disertai riungan sirine .

Akan tetapi perjalanan di Suriah bukanlah seperti perjalanan di negeri aman, jalan-jalan di negara ini sangatlah buruk pasca terjadinya perang. Banyak sekali lubang di jalan dan sebagian aspal terkelupas. Tiba di suatu lubang yang dalam, sang supir ambulans telat menginjak rem dan terjadilah goncangan yang keras pada mobil ambulans tersebut.

Jasad Khabbab terpelanting dari ranjang ambulans. Mata Khabbab terbuka, dan berteriak: “Aduh, dimana saya?” Sambil wajahnya memandang ke segala penjuru.

Sontak seluruh teman terkejut dengan peristiwa itu. Bagaimana mungkin mayat yang telah mati bisa hidup kembali. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama, berubah menjadi ledakan tawa. Menertawakan Khabbab yang dikira sudah mati, ternyata hanya tertidur.

Salah seorang teman kemudian bertanya kepada Khabbab;

“Hai Khabbab, kamu tadi dengar nggak suara ledakan barmil?”

Khabbab menjawab, disertai senyum meringis: “Tidak tuh!”

Jawaban itu membuat temannya semakin tertawa lebar, seakan tidak percaya ada orang yang masih tetap tertidur pulas saat dihujani bom barmil.

Selanjutnya Khabbab juga menceritakan tentang suatu peristiwa peperangan, dimana dia ikut andil menyertai peperangan tersebut. Ghazwah Masyasna (perang Masyasna). Adalah nama perang yang dinisbatkan terhadap nama suatu desa di pinggiran provinsi Hama, dimana Mujahidin mulai merangsek maju untuk merebut Hama secara keseluruhan, yang dimulai dari pinggiran provinsinya.

Strategi yang dipakai oleh Mujahidin dalam peperangan ini adalah peperangan senyap. Dengan kekuatan beregu yang mengendap tanpa terdeteksi musuh, maju hingga ke pos-pos pertahanan mereka, dan menyerang secara kilat.

Cara ini dipilih oleh amir asykari Mujahidin mengingat cocoknya lokasi dengan cara ini, dan keuntungan dari strategi ini amatlah besar. Maka dipersiapkanlah satuan regu untuk menyusup ke jantung pertahanan musuh tanpa suara sedikitpun.

Sebagai pemimpin dalam satuan tersebut adalah Abu Adil (seorang komandan yang berpengalaman). Dia membawahi beberapa Mujahid yang terpilih dalam operasi tersebut. Setelah diadakan seleksi, maka terkumpullah Mujahidin pilihan yang dianggap mampu untuk menyelesaikan tugas berat ini. Dan ternyata Khabbab masuk dalam jajaran orang yang terpilih.

Tanpa membuang banyak waktu untuk pelaksanaan operasi tersebut, Abu Adil segera membawa regu pasukannya untuk masuk ke jantung pertahanan tentara musuh. Mmereka berjalan sangat hati-hati hingga tidak mengeluarkan suara, kadang harus berhenti untuk memantau kondisi, terkadang pula harus merayap demi menghindari pandangan musuh yang berjaga-jaga.

Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga mereka tepat di depan doshma (bunker) musuh. Persisnya adalah sebuah gundukan tanah yang dibuat setinggi 2 meter, membentang luas memagari suatu wilayah.

Sang amir menyuruh seluruh anggotanya untuk berbaring di tepian doshma, dan mengutus salah satu anggotanya untuk masuk mengecek keadaan di dalam wilayah musuh.

Maka berangkatlah sang utusan pengintai tersebut untuk masuk ke dalam wilayah musuh, serta akan memberi kabar nantinya tentang posisi pertahanan musuh yang akan diserang.

Waktu berjalan, detik ke detik berlalu sampai akhirnya lewat beberapa jam. Regu pasukan menunggu dengan cemas kabar dari tim pengintai. Sambil berbaring di gundukan tanah, mereka saling berdoa dan berharap keselamatan.

Tapi rupanya berbeda dengan Khabbab, dia tertidur pulas karena tidak mampu menahan rasa kantuknya. Posisi berbaring nampaknya membuatnya terbang ke alam mimpi.

Yang ditunggu akhirnya datang juga, tim pengintai mengabarkan bahwa posisi musuh sangatlah kuat. Dan tidak memungkinkan untuk mengadakan operasi pada malam tersebut. Setelah berdiskusi sejenak dengan Abu Adil sebagai pimpinan regu, maka diputuskan operasi penyerangan pada malam itu dibatalkan.

Segera diberitahukan kepada semua anggota untuk mundur untuk mengatur strategi baru yang cocok. Ketika melihat Khabbab sedang tertidur, sang amir jadi terheran-heran. Bisa bisanya orang ini tidur di tempat yang sangat berbahaya seperti ini. Padahal semuanya diselimuti perasaan takut akan ketahuan musuh.

Maka digoncang-goncangkan tubuh Khabbab oleh Abu Adil.

“Bangun yaa Khabbab,” suara Abu Adil lirih disertai goncangan tangannya berusaha membangunkan. Tapi ia sangat susah dibangunkan, dia tidak juga terbangun.

Tak habis akal, Abu Adil membekap mulut dan hidung Khabbab dengan tangannya. Ddibekapnya dengan sekuat tenaga, hingga nampaknya Khabbab sesak kehabisan nafas. Akhirnya bangun juga khabbab dengan cara ini.

Setelah bangun, maka pasukan meninggalkan tempat tersebut untuk mundur ke belakang. Kejadian itu membuat amir geleng-geleng kepala sendiri mengingat kelakuan lucu Khabbab.

Tak berhenti sampai disini saja peristiwa lucu akibat kebiasaan buruk Khabbab.

Pernah suatu saat, Khabbab diberi giliran jaga untuk menjaga markas Mujahidin. Dia mendapat giliran jaga di awal malam. Kebiasaan yang berlaku dalam giliran jaga tersebut adalah, orang yang mendapat giliran jaga akan membangunkan temannya yang beristirahat untuk bergantian giliran jaga. Setiap giliran biasanya antara 2 sampai 3 jam.

Khabbab menjadi orang pertama di awal malam tersebut untuk menjaga keamanan markas. Jam berlalu begitu lambat, malam yang sunyi, dan angin malam yang dingin menusuk, akhirnya membuat Khabbab terjatuh dalam dunia mimpinya. Sampai-sampai khabbab baru terbangun oleh sinar matahari.

Kacau sekali keadaan waktu itu, semalaman markas tidak dijaga, seluruh Mujahid tertidur tanpa ada yang membangunkan dan mereka juga kesiangan.

Amir menjadi marah atas peristiwa tersebut, tapi apa hendak dikata, memang kebiasaan buruk Khabbab ini bukan hal yang disengaja. Mereka hanya bisa tersenyum menanggapi si tukang tidur ini.

Amir akhirnya membuat kebijaksanaan mengenai Khabbab. Di antaranya adalah: Khabbab tidak diberikan jam kerja malam, baik itu perang ataupun ribath, Khabbab diberi pekerjaan hanya di siang hari. Subhanallah, Khabbab bekerja sangat rajin di siang hari, dan termasuk dalam jajaran orang yang sangat sibuk. Tapi dalam kesibukannya tersebut, selalu tersirat senyuman yang sangat manis.

Kebijakan seorang amir yang jitu untuk menempatkan anggota sesuai dengan potensi yang dimiliki dan juga kelemahannya membuat perjalanan Jihad ini berjalan sangat indah.

– See more at: https://www.arrahmah.com/news/2016/08/19/kisah-dari-bumi-jihad-syam.html#sthash.DIsUpuz7.dpuf

Teguran, Saya Menangis dan Malu Baca Cerita Ini…

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yg itu brp Pak?”. Continue reading…

Beribadah di Zaman Fitnah

Nabi saw mengabarkan bahwa pada akhir zaman, akan muncul berbagai fitnah (berbagai hal yang dapat memalingkan manusia dari agama Allah) dan kekacauan. Seperti yang terdapat dalam hadis-hadis berikut,

عن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: يتقارب الزمان، ويُقْبَضُ العِلمُ، وتظهر الفتنُ، ويُلْقَى الشُّحُّ، ويَكثُرُ الهَرْجُ))، قالوا: وما الهَرْجُ؟ قال: القتل

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu akan menjadi dekat, ilmu dicabut, aneka fitnah bermunculan, kekikiran merebak dan al harju kian banyak.” Mereka berkata, “Apa yang dimaksud dengan al harju?” beliau bersabda, “Pembunuhan.” (HR Bukhari Muslim)

عن أبي وائل، قال: كنتُ جالسًا مع عبدالله وأبي موسى، فقالا: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((إن بين يَدَيِ الساعةِ أيامًا، يُرفَعُ فيها العلمُ، وينزلُ فيها الجهلُ، ويَكثُرُ فيها الهَرْجُ))، والهَرْجُ القتلُ

Dari Abu Wail, aku pernah duduk bersama Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dekat hari kiamat akan ada hari-hari dimana ilmu diangkat, kebodohan merebak dan al harju kian banyak.” Al harju adalah pembunuhan. (HR Bukhari Muslim)

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: ((لا تقوم الساعة حتى يَفِيض المال، وتظهر الفتن، ويكثر الهَرْج))، قالوا: وما الهَرْج يا رسول الله؟ قال: ((القتل، القتل، القتل)) ثلاثًا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga terjadi harta yang melimpah, beragam fitnah muncul al harju merebak.” Mereka berkata, “Apa yang dimaksud dengan al harju wahai Rasulullah?” beliau bersabda, “Pembunuhan, pembunuhan, pembunuhan.” Tiga kali. (HR Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)

Itulah kabar dari seorang yang lisannya selamat dari hawa nafsu, yang benar dan dibenarkan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita fenomena yang akan terjadi pada akhir zaman. Beragam fitnah akan muncul dan kekacauan akan timbul disebabkan perilaku manusia yang kian buruk, ilmu semakin sedikit dan yang merebak adalah kebodohan.

Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah memberi kabar gembira bahwa ibadah di zaman itu berpahala sangat besar dan bernilai amat tinggi.

عن مَعْقِل بن يَسَار – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: العبادة في الهَرْج كهجرة إليَّ

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah dalam zaman harju seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beramal dalam masa harju seperti hijrah kepadaku.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Ibadah di zaman fitnah seperi hijrah kepadaku.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Imam Nawawi dalam “Syarh Muslim” (18/88) berkata, “Sabda beliau, “Ibadah di zaman harju seperti hijrah kepadaku.” Makna al harju adalah fitnah dan samarnya urusan-urusan manusia. Ibadah di zaman itu memiliki keutamaan yang banyak karena rata-rata manusia lalai dari urusan ibadah dan sibuk dengan urusan yang lain. Hanya sedikit saja yang benar-benar mengisi waktunya dengan ibadah.”

Ibnu Hajar dalam “Fathul Baary” (13/75) berkata, “Al Qurthuby berkata, “Sesungguhnya fitnah dan kesulitan yang berat akan terjadi hingga urusan agama menjadi ringan, perhatian kepadanya kian sedikit. Setiap orang hanya memperhatikan urusan dunia dan kehidupan pribadinya serta yang berkaitan dengannya, oleh karena itu, kedudukan ibadah menjadi agung dalam masa-masa fitnah.”

Dalam kitab Tathriiz Riyaadh As Shahilihin (1/747), Al Qurthuby berkata, “Orang yang berpegang teguh di masa itu, dan benar-benar menyibukkan diri dengan ibadah, menjauhi manusia, ganjarannya seperti ganjaran orang yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ia seperti orang yang berhijrah menyelamatkan agamanya dari orang-orang yang menghalanginya untuk bergabung bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula orang yang menyibukkan diri dengan ibadah, ia seperti orang yang lari dari manusia menyelamatkan agamanya untuk beribadah kepada Rabbnya. Pada hakikatnya, ia berarti telah berhijrah kepada Rabbnya dan lari dari seluruh makhluk-Nya.”

Al Munawi dalam “Faidhul Qadir” (4/373) berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibadah dalam al harju.” Maksudnya adalah masa bermunculan fitnah dan kesamaran dalam berbagai urusan.”

“Seperti hijrah kepadaku.” Maksudnya dalam hal pahalanya yang banyak. Atau, orang yang berhijrah dahulu hanya sedikit, karena kebanyakan manusia tidak mampu melakukannya. Begitu pun orang yang beribadah dalam masa al harju sedikit yang melakukannya.”

Ibnul Araby berkata, “Sisi persamaannya dengan hijrah adalah bahwa masa dahulu orang-orang lari dari negeri kufur dan meninggalkan penduduknya kepada negeri iman dan bergabung dengan penduduknya. Ketika terjadi fitnah, maka seharusnya bagi seseorang untuk membawa lari agamanya dari fitnah kepada ibadah, meninggalkan orang-orang itu dan kehidupan mereka. Maka ia adalah salah satu bentuk hijrah.”

Ibnul Jauzy dalam “Kasyful Musykil min Hadiits Ash Shahihaini” (2/42) berkata, “Al hajru adalah peperangan dan kesamaran. Jika fitnah melanda, hati menjadi sibuk, jika seorang hamba sibuk beribadah pada saat itu, hal ini menunjukkan kuatnya hati hamba tersebut dengan Allah azza wa jalla, sehingga ganjaran ibadahnya menjadi besar.”

Al Hafidz Ibnu Rajab berkata, “Sebab dari semua itu adalah bahwa manusia di zaman fitnah lebih cenderung mengikuti hawa nafsunya dan tidak kembali kepada agama, maka keadaan mereka seperti keadaan orang-orang jahiliyyah. Jika diantara mereka ada orang yang berpegang teguh dengan agamanya, beribadah kepada Tuhannya, mengikuti perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dimurkai-Nya, maka kedudukannya seperti orang yang berhijrah dari masyarakat jahiliyyah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya beriman, mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.”

Wallahu ‘alam…

Kisah pernikahan terindah; izinkan aku menjadi suaminya di Surga

Di kota Suffah tinggalah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke 35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid tengah mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid kaget dan menjawabnya dengan gugup. “Wahai saudaraku Zahid. Selama ini engkau tampak sendiri saja.” Sapa Rasulullah.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah,”jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih melajang? Apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah?” tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat. Siapa wanita yang mau denganku?”

“Mudah saja kalau kau mau!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun segera diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba disana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasul yang mulia,” kata Zahid.

Said menjawab, “ini adalah kehormatan buatku.”

Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terperanjatnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran, karena dalam tradisi Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan yang kaya juga. Itulah yang dinamakan “sekufu”(sederajat).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah, mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk?”

“Anakku, ia adalah pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid. Ia pun menangis sejadi-jadinya.

“Ayah, banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya. Semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah bila lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasulullah disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah?”

Said pun menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah. “

Serta merta Zulfah mengucap Istighfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu Rasulullah. Kalau begitu keadaannya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’.”(An-Nuur: 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?” Tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata,”Rasulullah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya ke rumah Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di mesjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataannya. Zahid bertanya,”Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya? “

Zahid pun beristighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda yang terbaik. “

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan hendak pergi juga? “ kata para sahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid menyitir ayat “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah:24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan tempur sampai ia gugur.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169-170 dan Al-Baqarah ayat 154

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-oorang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezaki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati. “

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para sahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.”

Demikian pintanya. Sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah, meski semula hati berontak.

Wallahu ‘alam…

Doa memohon keteguhan iman dan kebulatan tekad

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kepada kami beberapa kalimat doa untuk kami baca dalam shalat kami atau selesai shalat kami, yaitu:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ “

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara (keimanan), aku memohon kepada-Mu tekad bulat yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon ampunan-Mua atas (dosa-dosaku) yang Engkau pasti mengetahuinya, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau pasti mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau pasti mengetahuinya.”

(HR. Ahmad no. 17133, Tirmidzi no.3407, An-Nasai no. 1304, Ibnu Hibban no. 935, Ath-Thabarani no. 7157 dan lain-lain. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Hadits hasan dengan banyaknya sanadnya)

(muhibalmajdi/arrahmah.com)

Kekuatan penyembuhan dengan Al-Quran berdasarkan penelitian ilmiah

Ada banyak penyakit setiap hari yang sembuh dengan membaca Al-Quran. Kita tidak dapat membantah hal itu karena kesembuhan memang terjadi. Hal itu terjadi pada saya (Abduldaem Al-Kaheel – penyusun artikel) ketika saya membaca ayat-ayat tertentu untuk khusus penyakit dan penyakit itu sembuh! (atas izin Allah).

Penyembuhan dengan Al-Quran adalah isu yang kritis yang tidak banyak ada studi atau penelitian tentangnya, jadi saya rasa untuk memulai perjalanan ini dan memohon kepada Allah untuk membimbing saya, memberikan saya ilmu yang bermanfaat, menunjukkan kepada saya kebenaran dan menolong saya untuk melakukannya, dan menunjukkan kepada saya kesalahan dan menolong saya untuk menjauhinya. Salah satu buah terpenting dari penelitian ini, yang berlangsung selama bertahun-tahun, yaitu bahwa saya datang dengan hasil yang penting: Allah telah menempatkan dalam setiap ayat Al-Quran sebuah kekuatan penyembuhan untuk penyakit tertentu jika ayat ini dibaca dalam jumlah tertentu berkali-kali.

Permulaan

Ketika kita merenungkan alam semesta di sekeliling kita, kita melihat bahwa setiap atom bergetar dalam frekuensi tertentu, apakah atom ini bagian dari logam, air, sel atau apapun. Sehingga setiap benda di dalam alam semesta ini bergetar, hal ini memberikan fakta ilmiah.

Struktur dasar alam semesta ini adalah atom, dan struktur dasar tubuh kita adalah sel; setiap sel terbuat dari milyaran atom dan setiap atom terbuat dari nukleus positif dan elektron negatif yang berotasi di sekitarnya; karena rotasi ini sebuah medan elektromagnetik dihasilkan serupa dengan medan-medan yang dihasilkan oleh sebuah mesin.

 

Gambar 1: Atom adalah struktur dasar di dalam alam semesta ini dan di dalam tubuh kita; ini terus-menerus bergetar, yang artinya setiap benda bergetar sesuai degan sebuah sistem yang teliti.

Rahasia yang membuat otak kita berpikir adalah sebuah program akurat yang ada dalam sel-sel otak; program yang berada di dalam setiap sel ini mengerjakan tugasnya dengan teliti; kerusakan sekecil apapun dalam pekerjaannya akan menyebabkan ketidakseimbangan dan penyakit di beberapa bagian tubuh; pengobatan terbaik untuk ketidakseimbangan ini adalah dengan mengembalikan keseimbangan pada tubuh. Para ilmuwan menemukan bahwa sel-sel tubuh dipengaruhi oleh berbagai getaran seperti gelombang cahaya, gelombang radio, gelombang suara, dll. Tetapi apa itu suara?

Gambar 2: Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini bisa menimbulkan penyakit pada beberapa bagian tubuh. Itulah mengapa sel-sel yang rusak harus digetarkan untuk mengembalikan keseimbangannya.

Kita tahu bahwa suara terbuat dari gelombang atau getaran yang bergerak di udara pada sekitar 340m/detik. Setiap suara memiliki frekuensinya sendiri, dan manusia bisa mendengar dari frekuensi 20 per detik hingga frekuensi 20000 per detik (1).

Gelombang-gelombang ini menyebar di udara dan kemudian ditangkap oleh telinga, kemudian berubah menjadi sinyal elektrik dan bergerak melalui saraf suara menuju kulit accoustic bark pada otak; sel-sel terkait dengan gelombang-gelombang tersebut dan bergerak ke dalam berbagai bagian otak, terutama di bagian depan; semua bagian ini bekerja sama sesuai dengan sinyal-sinyal tersebut dan menerjemahkan mereka ke dalam bahasa yang dipahami oleh manusia. Dengan demikian, otak menganalisa sinyal-sinyal tersebut dan memberikan perintah-perintahnya ke berbagai bagian tubuh untuk terhubung dengan sinyal-sinyal itu.

Gambar 3: Suara terdiri dari getaran mekanik yang mencapai telinga kemudian sel-sel otak yang terhubung dengan getaran-getaran itu dan mengubah getaran-getarannya sendiri; itulah mengapa suara dianggap sebuah kekuatan penyembuhan yang efektif, tergantung pada sifat suara dan frekuensinya. Kita temukan kekuatan penyembuhan itu di dalam Al-Quran karena ini adalah kitab Allah.

Dari sini muncul terapi suara; suara tersebut adalah sebuah getaran, sel-sel tubuh bergetar, kemudian suara tersebut mempengaruhi sel-sel tubuh. Ini adalah hal yang ditemukan oleh para pengamat baru-baru ini.

Di universitas Washington pada abad dua puluh satu belakangan ini, para ilmuwan menemukan bahwa tugas sebuah sel otak tidak hanya mentransfer informasi, setiap sel adalah sebuah komputer kecil yang bekerja mengumpulkan informasi, memprosesnya, dan memberikan perintah terus-menerus siang-malam 24 jam.

Ellen Covey, seorang peneliti di Washington University, mengatakan bawa ini adalah pertama kalinya kita menyadarai bahwa otak tidak bekerja sebagai komputer yang besar, tetapi otak berisi sejumlah besar komputer yang bekerja dengan cara kooperatif, ada sebuah komputer kecil dalam setiap sel, dan ada komputer-komputer yang dipengaruhi oleh getaran di sekitarnya, terutama suara (2).

Gambar 4: Eksperimen (percobaan) menunjukkan bahwa di dalam setiap sel di dalam otak ada sebuah komputer yang Allah tanamkan padanya sebuah program akurat yang mengarahkan sel dan mengontrol kerjanya. Itu juga menunjukkan bahwa suara mempengaruhi sel tersebut; gambar di atas adalah gambar sel yang terkena pengaruh oleh sebuah suara dan medan elektromagetik yang terbentuk di sekitarnya.

Dengan begitu, kita bisa mengatakan bahwa sel-sel di setiap bagian tubuh bergetar dalam frekuensi tertetu, dan membentuk sebuah sistem yang rumit dan terkoordinasi yang terpengaruh oleh setiap suara di sekitarnya. Sehingga, setiap penyakit yang melanda semua bagian tubuh akan menyebabkan sebuah perubahan dalam getaran pada bagian sel ini dan oleh karena itu menyebabkannya menyimpang dari sistem tubuh yang umum yang mempegaruhi seluruh tubuh. Inilah mengapa, ketika tubuh ini terkena suara tertentu, suara ini mempengaruhi sistem getaran tubuh dan terutama pada bagian yang tidak beraturan; bagian ini akan merespon suara tertentu untuk mengembalikan sistem getaran asli, atau dengan kata lain untuk mengembalikan kondisi kesehatannya. Para ilmuwan menemukan hasil ini belum lama ini. Bagaimana kisah ilmiah ilmu pengetahuan (terapi suara) ini?

Cerita tentang terapi suara

Alfred Tomatis, seorang dokter Perancis, membuat eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indera manusia dan muncul dengan hasil bahwa indera pendengaran adalah indera yang paling penting! Dia menemukan bahwa telinga mengontrol seluruh tubuh, mengatur operasi-operasi vitalnya dan keseimbangan serta koordinasi gerakan-gerakannya ia juga menemukan bahwa telinga mengontrol susunan saraf!

Selama eskperimennya, ia menemukan bahwa saraf pendengaran terhubung dengan seluruh otot tubuh dan ini adalah alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh serta indera penglihatan itu terpengaruh oleh suara. Telinga dalam terhubung dengan seluruh bagian tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, perut dan usus; hal ini menjelaskan mengapa frekuensi suara mempengaruhi seluruh tubuh (3).

Pada 1960, ilmuwan Swiss Hans Jenny menemukan bahwa suara mempengaruhi berbagai material dan memperbarui partikular-partikularnya, dan bahwa setiap sel tubuh memiliki suaranya sendiri dan akan terpengaruh oleh pembaruan suara serta material di dalamnya (4). Pada 1974, para peneliti Fabien Maman dan Sternheimer mengumumkan penemuan yang sangat mengejutkan; Mereka menemukan bahwa setiap bagian dari tubuh memiliki sistem getaran sendiri, sesuai dengan hukum fisika. Beberapa tahun kemudian, Fabien dan Grimal, peneliti lainnya, menemukan bahwa suara mempengaruhi sel-sel terutama sel-sel kanker, dan bahwa suara-suara tertentu memiliki pengaruh yag kuat; hal yang ajaib yang ditemukan oleh kedua peneliti tersebut adalah suara yang memiliki efek yang paling kuat terhadap sel-sel tubuh adalah suara manusia itu sendiri!!

Gambar 5: Suara bergerak dari telinga ke otak dan mempengaruhi sel-sel otak; para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa suara memiliki kekuatan penyembuh yang ajaib dan efek yang menakjubkan dari sel-sel otak yang mengembalikan keseimbangan ke seluruh tubuh! Membaca Al-Quran memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap sel-sel otak dan mampu mengembalikan keseimbangannya; otak adalah organ yang mengontrol tubuh dan dari sini perintah-perintah dikirim kepada seluruh organ tubuh terutama sistem kekebalan tubuh.

Fabien, seorang ilmuwan sekaligus musisi, menempatkan sel-sel dari tubuh yang sehat dan mengenakannya kepada berbagai suara; Dia menemukan bahwa setiap not skala musik mempengaruhi medan elektromagnetik dari sel tersebut; ketika memotret sel ini dengan kamera Kirlian, ia menemukan bahwa bentuk dan nilai medan elektormagnetik dari sel itu berubah sesuai frekuensi suara dan tipe suara pembaca.

Kemudian ia melakukan eksperimen lainnya dengan mengambil setetes darah dari salah satu pasein; dan kemudian memonitor tetesan darah tersebut dengan kamera Kirlian dan meminta pasien itu untuk mengeluarkan berbagai nada. Dia menemukan, setelah memproses gambarnya, bahwa nada tertentu dalam tetesan darah itu mengubah medan elektromagnetiknya dan sepenuhnya bergetar merespon pemiliknya. Dia kemudian menyimpulkan bahwa ada nada-nada tertentu yang mempengaruhi sel-sel tubuh dan membuatnya lebih vital dan aktif, bahkan memperbaharuinya. Dia muncul dengan hasil yang penting bahwa suara manusia memiliki pengaruh kuat dan unik terhadap sel-sel tubuh; pengaruh ini tidak ditemukan pada instrumen lainnya. Peneliti ini mengatakan secara harfiah:

“Suara manusia memiliki dering khusus yang membuatnya menjadi alat pengobatan yang paling kuat (5). Fabien menemukan bahwa beberapa suara dengan mudah menghancurkan sel kanker, dan pada saat yang sama mengaktifkan sel sehat. Suara mempengaruhi sel darah manusia yang mentransfer frekuensi suara ini ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.”

Gambar 6: Sebuah sel kanker hancur dengan menggunakan frekuensi suara saja!! Itulah mengapa membaca Al-Quran memiliki dampak hebat dalam perawatan kanker paling berbahaya sekalipun dan penyakit-penyakit yang menurut medis tidak dapat disembuhkan!

Tetapi apakah pengaruh ini terbatas hanya untuk sel-sel tubuh? Jelaslah bahwa suara mempengaruhi apapun di sekitar kita. Inilah yang Masaru Emoto, seorang ilmuwan Jepang, buktikan dalam eksperimennya terhadap air; Dia menemukan bahwa medan elektromagnetik pada molekul-molekul air sangat terpengaruh oleh suara, dan bahwa ada nada-nada tertentu yang berpengaruh pada molekul-molekul ini dan membuatnya menjadi lebih teratur. Jika kita mengingat bahwa tubuh manusia 70 persennya terdiri dari air, maka suara yang manusia dengar mempengaruhi keteraturan pada molekul-molekul air di dalam sel-sel dan dengan cara ini molekul-molekul itu bergetar.

Gambar 7: Bentuk molekul-molekul air berubah ketika terkena suara; dengan demikian, suara sangat mempengaruhi air yang kita minum. Jika kita membacakan ayat-ayat Al-Quran pada air, sifat-sifatnya akan berubah dan akan membawa pengaruh ayat-ayat Al-Quran ke setiap sel di dalam tubuh, menyebabkannya dapat menyembuhkan! (insya Allah). Pada gambar di atas, kita melihat sebuah molekul air yang beku; medan elektromagnetik di sekitar molekul ini berubah secara kontinyu akibat efek suara.

Bagaimana ayat-ayat Al-Quran bisa menyembuhkan?

Sekarang, mari menanyakan pertanyaan penting: apa yang terjadi di dalam sel-sel tubuh dan bagaimana suara menyembuhkan? Bagaimana suara ini mempengaruhi sel-sel yang rusak dan mengembalikan keseimbangannya? Dengan kata lain, bagaimana mekanisme penyembuhannya?

Para dokter terus mencari cara untuk menghancurkan beberapa virus; jika kita memikirkan tentang mekanisme virus ini, apa yang membuatnya bergerak dan menemukan jalannya kepada sel? Siapa yang memberikan virus itu informasi yang tersimpan di dalam, yang memungkinkannya untuk menyerang sel-sel dan berkembang biak di dalamnya? Apa yang menggerakkan sel-sel itu melawan virus ini untuk menghancurkannya sementara berdiri tak berdaya di depan virus lainnya?

Gambar 8: Virus dan kuman juga bergetar dan sangat terpengaruh oleh getaran suara terutama suara lantunan ayat-ayat Al-Quran, suara ini menghentikan virus dan kuman dan pada saat yang sama meningkatkan aktifitas sel-sel sehat dan membangkitkan program yang terganggu yang berada di dalam untuk menjadi siap melawan virus dan kuman.

Lantunan ayat suci Al-Quran menciptakan sekelompok frekuensi yang mencapai telinga kemudian bergerak ke sel-sel otak dan mempengaruhinya melalui medan-medan elektromagnetik frekuensi ini yang dihasilkan dalam sel-sel ini. Sel-sel itu akan merespon medan-medan tersebut dan memodifikasi getaran-getarannya, perubahan pada getaran ini adalah apa yang kita rasakan dan pahami setelah mengalami dan mengulang.

Ini adalah sistem alami yang Allah ciptakan pada sel-sel otak, ini adalah sistem keseimbangan alami; ini adalah apa yang Allah firmankan kepada kita di dalam Kitab Suci Al-Quran:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama [Allah]; [tetaplah atas] fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. [Itulah] agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)

Gambar 9: Gambar di atas adalah gambaran nyata sebuah sel darah yang terkena suara dan mulai mengubah medan elektromagnetik di sekitarnya; suara lantutan ayat suci Al-Quran mengubah informasi sel ini, membawa dan membuatnya lebih mampu melawan virus dan kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit ganas.

Ayat-ayat mana yang dapat menjadi terapi penyembuhan?

Setiap ayat Al-Quran memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa (atas izin Allah) untuk penyakit-penyakit tertentu; di antara surat yang biasanya dilantunkan untuk meruqyah adalah Al-Fatiha, ayat Kursi (ayat ke-255 di surat Al-Baqarah), dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (285-286), dan tiga surat terakhir dalam Al-Quran (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) sebagaimana yang diberitahukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi, pada dasarnya semua ayat Al-Quran dapat menjadi terapi penyembuhan dan pencegahan dari berbagai penyakit, insya Allah.

Nabi paling mulia shalallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari membiasakan diri membaca ayat-ayat dan doa serta dzikir lainnya –selain mengkonsumsi makanan dan minuman alami yang sehat dengan adab-adab makan yang sehat- untuk perlindungan dari berbagai penyakit, baik fisik maupun psikis. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah untuk melindunginya dari gangguan setan, termasuk dari berbagai penyakit.

Pengobatan dengan ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam terbukti secara medis dapat menyembuhkan dari berbagai penyakit, apakah itu penyakit psikologis ataupun penyakit fisik (rohani ataupun jasmani), insya Allah.

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)

Sumber:

  1. Frekuensi suara diukur dengan satuan Hertz, yang berarti pengukuran satu getaran setiap satu detik; frekuensi suara ini berbeda dari satu orang dengan orang lainnya dan berdasarkan apa yang dikatakan oleh manusia.
  2. Joel Schwarz, How little gray cells process sound: they’re really a series of computers, University ofWashington, Nov. 21, 1997.
  3. Tomatis Alfred, The Conscious Ear, Station Hill Press, New York, 1991.
  4. Jenny Hans, Cymatics, Basilius Presse AG, Basel, 1974.
  5. Maman Fabien, The Role of Music in the Twenty-First Century, Tama-Do Press, California, 1997.
  6. Emoto Masaru. The Message from Water,HADO Kyoikusha. Tokyo, 1999.
  7. Keys Laurel Elizabeth, Toning the Creative Power of the Voice, DeVorss and Co. California, 1973.
  8. Simon Heather, The Healing Power of Sound, www.positivehealth.com.
  9. Kara Gavin, University of Michigan researchers publish new findings on the brain’s response to costly mistakes, University of Michigan, April 12, 2006.
  10. Brain Scans as Lie Detectors: Ready for Court Use?, Malcolm Ritter, www.livescience.com, 29 January 2006.
  11. Carl T. Hall, Chronicle Science Writer, Fib detector Study shows brain scan detects patterns of neural activity when someone lies, www.sfgate.com, November 26, 2001.

Diterjemahkan dari www.kaheel7.com dengan sedikit editan dan tambahan penerjemah.

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/03/21/kekuatan-penyembuhan-dengan-al-quran-berdasarkan-penelitian-ilimah.html

Doa Masuk dan Keluar Rumah

Rumah merupakan salah satu karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus selalu disyukuri. Baik rumah tersebut merupakan milik pribadi, orang tua, mertua, atau bahkan kontrakan. Status tersebut tidak mengurangi sedikit pun kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita.

Salah satu bentuk syukur atas nikmat rumah adalah senantiasa berdoa saat keluar dan masuk rumah. Selain itu adalah menggunakan rumah untuk hal-hal yang bernilai ketaatan kepada Allah Ta’ala atau hal-hal mubah yang  mendukung ketaatan. Rumah juga harus dihindarkan dari hal-hal yang diharamkan dan dibenci Allah Ta’ala, termasuk hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi kepentingan dunia maupun akhirat kita.

Doa masuk ke dalam rumah

1. Masuk ke dalam rumah dengan membaca salam

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Dan jika kalian memasuki rumah maka ucapkanlah kepada diri kalian salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkahi lagi baik. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya) kepada kalian agar kalian memahami.” (QS. An-Nuur [24]: 61)

2. Membaca dzikir atau doa:

a. Berdzikir dengan menyebut nama Allah

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ، فَذَكَرَ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ، وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ، فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ “

“Jika seseorang memasuki rumahnya lalu ia menyebutkan nama Allah saat ia masuk ke dalam rumah dan saat ia makan, maka setan berkata kepada kawan-kawannya, “Tidak tempat bermalam dan tidak ada makan malam bagi kalian di rumah ini”.

Jika seseorang memasuki rumahnya dan ia tidak menyebutkan nama Allah saat ia masuk ke dalam rumahnya, maka setan berkata kepada kawan-kawannya, “Kalian mendapatkan tidak tempat bermalam di rumah ini.”

Dan jika seseorang memasuki rumahnya dan ia tidak menyebutkan nama Allah saat ia makan malam, maka setan berkata kepada kawan-kawannya, “Kalian mendapatkan tempat bermalam dan jatah makan malam di rumah ini.” (HR. Muslim no. 2018)

b. Membaca doa

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Jika seseorang memasuki rumahnya, hendaklah ia membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ، وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ، بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan jalan masuk dan kebaikan jalan keluar. Dengan nama Allah kita memasuki (rumah) dan dengan nama Allah pula kita keluar (rumah), dan kepada Allah Rabb semata kita berserah diri.”

Beliau bersabda, “Kemudian hendaklah ia mengucapkan salam kepada anggota keluarganya.” (HR. Abu Daud no. 5096)

Sebagian besar ulama menyebutkan lafalnya berbunyi khairal mauliji, sementara sebagian kecil ulama menyebutkan lafalnya berbunyi khairal maulaji. (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 13/297-298)

Doa keluar dari rumah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu ia membaca doa:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada perubahan (dari satu keadaan kepada keadaan lain) dan kekuatan kecuali dengan (izin) Allah.”

Maka saat itu dikatakan kepadanya (oleh Allah atau malaikat): “Engkau telah diberi petunjuk, engkau telah dicukupi dan engkau telah dijaga.”

Maka para setan akan menjauh darinya. Seorang setan lainnya berkata, “Bagaimana mungkin engkau (setan lain) akan bisa menggoda seseorang yang telah diberi petunjuk, telah dicukupi dan telah dijaga?” (HR. Abu Daud no. 5095)

Keutamaan Mendoakan Kebaikan Untuk Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuannya

Salah satu tanda eratnya persaudaraan dengan sesama muslim adalah mendoakan muslim lainnya yang tidak berada di hadapannya, atau tanpa sepengetahuannya. Saat seorang muslim mendoakan muslim lainnya yang berada jauh dari tempatnya, tanpa sepengetahuannya, dengan doa-doa yang baik, niscaya doa tersebut akan dikabulkan Allah dan doa tersebut juga akan mencakup orang yang membacanya sendiri.

عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: ” دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “

Dari Ummu Darda’ dan Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim no. 2733, Abu Daud no. 1534, Ibnu Majah no.  2895 dan Ahmad no. 21708)

Hadits ini merupakan sebuah modal berharga bagi kita untuk banyak mendoakan kebaikan bagi saudara-saudara muslim lainnya. Selain mendapatkan pahala mendoakan mereka, kita juga akan mendapatkan kebaikan dari doa yang kita panjatkan tersebut. Mendoakan kebaikan untuk sesama muslim sama halnya dengan mendoakan kebaikan untuk diri kita sendiri, sebagaimana dijelaskan di akhir hadits di atas. Malaikat mengamini doa kita dan Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menjamin bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkannya.