Category: Kisah

Keshalihan orang tua adalah asuransi terbaik untuk anaknya

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fii sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000  pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? KEBERKAHAN.

Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.

Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.

Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.

Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,

“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,

“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)

Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.

Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”

Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”

Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah: ((إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ)). Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka. Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.

Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:

  1. Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.
  2. Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.
  3. Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.

Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.

Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

Oleh:  Ustadz Budi Ashari, Lc.

Kisah dari bumi Jihad Syam

Sebuah kisah nyata dari bumi jihad syam. Kisah tentang seorang pemuda yang mengangkat senjata demi menegakkan izzah islam dan kaum muslimin. Koresponden arrahmah.com menjumpainya di sela-sela pertempuran di kota Aleppo, Suriah.

Ia bernama Khabbab Asy-Syami, seorang pemuda yang berasal dari Idlib. Pemuda ini berakhlaq baik dan juga sangat mudah dalam bergaul. banyak teman seperjuangannya mencintainya karenanya. Dan yang lebih membuat kedekatan diantara mereka, adalah Khabbab suka menghibur teman temannya tersebut dengan candaannya yang menghibur.

Kisah tentang Khabbab adalah kisah seorang pemuda yang berjihad akan tetapi mengangkat sisi yang unik dari seorang manusia.

Ada sebuah peribahasa, “tiada gading yang tak retak”, ungkapan bagi manusia yang tak sempurna dan memiliki kekurangan dalam hal tertentu.

Begitu juga Khabbab, sang Mujahid yang satu ini mempunyai banyak kelebihan, tapi juga punya kelemahan.

Kelemahan dari Khabbab ini adalah ia tidak bisa menahan tidurnya, dan juga susah sekali untuk dibangunkan bila sudah tidur. Orang biasa menyebutnya tidur kebo, untuk tidur yang seperti ini tingkat keparahannya. Hingga terjadi beberapa peristiwa lucu akibat dari kebiasaan buruknya ini.

Khabbab bercerita kepada koresponden arrahmah.com tentang peristiwa yang dialaminya semasa perang di pedesaan Khan Saikhun, provinsi Idlib, pada bulan Oktober tahun 2014 silam.

Kala itu Mujahidin melakukan penyerangan ke basis tentara Syiah rezim Bashar Asad, dan dengan karunia Allah Mujahidin mampu merebut sebuah wilayah dari kekuasaan tentara rezim Bashar Asad, yaitu sebuah desa di pinggiran Idlib yang menjadi markas komando tentara.

Setelah berhasil membebaskan sebuah wilayah, Mujahidin mengendalikan kontrol wilayah tersebut dengan mengadakan penjagaan (ribath) yang memakan waktu berhari-hari.

Khabbab sendiri ikut serta dalam operasi tersebut. Dengan taat dia melaksanakan tugasnya dalam peperangan dan juga ribath.

Tentunya bukanlah suatu hal yang mudah, jadwal kerja yang sangat pedat membuat seluruh Mujahidin lelah, hal ini di ketahui oleh komandan Mujahidin. Sehingga diambil kebijakan untuk ribath bergiliran seluruh anggota Mujahidin. Siapa yang telah selesai perang dan ribath, maka digantikan oleh anggota yang telah mendapat waktu istirahat. Bbegitulah kira kira kebijakan dari komandan Mujahidin.

Singkat cerita karena sudah melaksanakan tugasnya, maka Khabbab mendapatkan gilirannya untuk beristirahat di markas Mujahidin. Mereka menempati sebuah rumah kosong yang kemudian mereka bersihkan, dan selanjutnya mereka jadikan markas.

Nama dari markas itu adalah markas 45 Khan Saikhun.

Tentang nama markas 45 sendiri digunakan nama tersebut untuk mempermudah mengingat suatu nama tempat dan mempermudah panggilan komando.

Markas ini adalah sebuah bangunan berlantai 2, yang ditinggalkan pemiliknya karena perang, yang memiliki banyak ruangan, baik ruangan atas maupun di bawahnya.

Suasana malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Jika hari-hari biasanya malam terasa sunyi senyap, tapi malam itu dipenuhi dentuman bom dari tentara rezim.

Hal itu disebabkan Karena mereka kehilangan daerah yang dikuasainya, tentara rezim berusaha menghancurkan markas-markas Mujahidin dengan serangan udara mereka. Alhasil dari pengumpulan data udara, terlacaklah markas 45 Khan Saikhun.

Lewat tengah malam, angkatan udara rezim Asad menerbangkan 2 helikopter untuk menggempur markas 45. Setiap helikopter membawa 3 bom barmil berkekuatan ledak tinggi, dan diperkirakan 1 barmil itu berbobot lebih dari 100 kg. Sebuah senjata pemusnah yang mengerikan.

Kedua helikopter tersebut bergerak menuju ke arah markas 45 Khan Saikhun. Untungnya pergerakan helikopter ini segera diketahui oleh Mujahidin, di sebabkan oleh suara helikopter di udara yang mendekat ke arah markas.

Para ikhwah Mujahidin berteriak kepada teman-temannya yang di dalam markas untuk segera bangun dan meninggalkan markas, karena bahaya mengancam keselamatan mereka. Jumlah mereka kala itu sekitar 20 orang dan Khabbab ada di antara mereka.

Karena dirasa teriakan untuk membangunkan sudah sangat keras, dan dikira semua sudah keluar dari markas, maka komandan regu memberitahukan kepada mereka untuk menyebar mencari tempat perlindungan yang jauh dari markas.

Akan tetapi teriakan keras teman-temannya tak mampu untuk membangunkan Khabbab. Dia masih saja tertidur pulas di salah satu ruangan di lantai bawah markas 45.

Persis sesaat kemudian, selepas Mujahidin berpencar untuk mencari perlindungan, helikopter menjatuhkan semua bom barmilnya ke arah markas 45 Khan Saikhun.

Sebuah pemandangan mengerikan dimana bangunan tersebut dihujani 6 bom barmil sekaligus, untuk melumatkan bangunan tersebut. Markas 45 Khan Saikhun rubuh ke tanah diterpa bom barmil helikopter tentara rezim.

Selepas helikopter pergi menjauh, Mujahidin memeriksa keadaan markas untuk menyelamatkan barang yang masih bisa di selamatkan.

Komandan regu sendiri sibuk mengecek jumlah pasukan yang ada di markas. Sang komandan mulai mengumpulkan anggotanya untuk diketahui keadaan dan keselamatannya. pengecekan berubah menjadi kepanikan saat disebutkan nama Khabbab. Semua ikhwah saling bertanya di mana keberadaannya, sahut menyahut memanggil namanya berharap mendapat jawab dari Khabbab.

Maka dicarilah Khabbab oleh para ikhwah di bawah reruntuhan markas. Semua ikhwah bahu-membahu untuk mencari Khabbab di bawah reruntuhan bangunan. Hampir seluruh ruangan di markas tersebut hancur dan rubuh ke tanah, tapi ada sebuah ruangan yang masih agak utuh. Ruangan tersebut ada di lantai bawah dari bangunan tersebut.

Salah satu ikhwah masuk ke dalam ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Khabbab. Diselimuti debu hitam yang sangat pekat dan aroma sisa bahan peledak yang menyengat, sang ikhwah menyingkirkan sisa sisa robohan bangunan.

Akhirnya di temukannya sesosok jasad yang tertimbun tebalnya debu hitam dan kerikil. Jasadnya terlihat masih utuh tanpa luka yang berarti. Sang ikhwah mulai membersihkan muka dari jasad tersebut, dan tampaklah muka Khabbab terbujur kaku layaknya orang yang meninggal dunia. Seketika pecahlah suasana hening di reruntuhan bangunan itu.

Derai tangis sahabat Khabbab dan teriakan takbir menyeruak menyambut gugurnya syuhada.

“Khabbab syahid! Khabbab syahid! Khabbab syahid!” Teriakan para ikhwah sambil menggotong jenazah Khabbab.

Mobil ambulans yang beberapa saat sesudah kejadian dipanggil oleh Mujahidin, segera mempersiapkan mengangkut Khabbab ke RS. Kemudian dengan didampingi beberapa temannya, jenazah Khabbab segera meluncur pergi dari tempat kejadian. Mobil ambulans melesat dengan sangat kencangnya disertai riungan sirine .

Akan tetapi perjalanan di Suriah bukanlah seperti perjalanan di negeri aman, jalan-jalan di negara ini sangatlah buruk pasca terjadinya perang. Banyak sekali lubang di jalan dan sebagian aspal terkelupas. Tiba di suatu lubang yang dalam, sang supir ambulans telat menginjak rem dan terjadilah goncangan yang keras pada mobil ambulans tersebut.

Jasad Khabbab terpelanting dari ranjang ambulans. Mata Khabbab terbuka, dan berteriak: “Aduh, dimana saya?” Sambil wajahnya memandang ke segala penjuru.

Sontak seluruh teman terkejut dengan peristiwa itu. Bagaimana mungkin mayat yang telah mati bisa hidup kembali. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama, berubah menjadi ledakan tawa. Menertawakan Khabbab yang dikira sudah mati, ternyata hanya tertidur.

Salah seorang teman kemudian bertanya kepada Khabbab;

“Hai Khabbab, kamu tadi dengar nggak suara ledakan barmil?”

Khabbab menjawab, disertai senyum meringis: “Tidak tuh!”

Jawaban itu membuat temannya semakin tertawa lebar, seakan tidak percaya ada orang yang masih tetap tertidur pulas saat dihujani bom barmil.

Selanjutnya Khabbab juga menceritakan tentang suatu peristiwa peperangan, dimana dia ikut andil menyertai peperangan tersebut. Ghazwah Masyasna (perang Masyasna). Adalah nama perang yang dinisbatkan terhadap nama suatu desa di pinggiran provinsi Hama, dimana Mujahidin mulai merangsek maju untuk merebut Hama secara keseluruhan, yang dimulai dari pinggiran provinsinya.

Strategi yang dipakai oleh Mujahidin dalam peperangan ini adalah peperangan senyap. Dengan kekuatan beregu yang mengendap tanpa terdeteksi musuh, maju hingga ke pos-pos pertahanan mereka, dan menyerang secara kilat.

Cara ini dipilih oleh amir asykari Mujahidin mengingat cocoknya lokasi dengan cara ini, dan keuntungan dari strategi ini amatlah besar. Maka dipersiapkanlah satuan regu untuk menyusup ke jantung pertahanan musuh tanpa suara sedikitpun.

Sebagai pemimpin dalam satuan tersebut adalah Abu Adil (seorang komandan yang berpengalaman). Dia membawahi beberapa Mujahid yang terpilih dalam operasi tersebut. Setelah diadakan seleksi, maka terkumpullah Mujahidin pilihan yang dianggap mampu untuk menyelesaikan tugas berat ini. Dan ternyata Khabbab masuk dalam jajaran orang yang terpilih.

Tanpa membuang banyak waktu untuk pelaksanaan operasi tersebut, Abu Adil segera membawa regu pasukannya untuk masuk ke jantung pertahanan tentara musuh. Mmereka berjalan sangat hati-hati hingga tidak mengeluarkan suara, kadang harus berhenti untuk memantau kondisi, terkadang pula harus merayap demi menghindari pandangan musuh yang berjaga-jaga.

Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga mereka tepat di depan doshma (bunker) musuh. Persisnya adalah sebuah gundukan tanah yang dibuat setinggi 2 meter, membentang luas memagari suatu wilayah.

Sang amir menyuruh seluruh anggotanya untuk berbaring di tepian doshma, dan mengutus salah satu anggotanya untuk masuk mengecek keadaan di dalam wilayah musuh.

Maka berangkatlah sang utusan pengintai tersebut untuk masuk ke dalam wilayah musuh, serta akan memberi kabar nantinya tentang posisi pertahanan musuh yang akan diserang.

Waktu berjalan, detik ke detik berlalu sampai akhirnya lewat beberapa jam. Regu pasukan menunggu dengan cemas kabar dari tim pengintai. Sambil berbaring di gundukan tanah, mereka saling berdoa dan berharap keselamatan.

Tapi rupanya berbeda dengan Khabbab, dia tertidur pulas karena tidak mampu menahan rasa kantuknya. Posisi berbaring nampaknya membuatnya terbang ke alam mimpi.

Yang ditunggu akhirnya datang juga, tim pengintai mengabarkan bahwa posisi musuh sangatlah kuat. Dan tidak memungkinkan untuk mengadakan operasi pada malam tersebut. Setelah berdiskusi sejenak dengan Abu Adil sebagai pimpinan regu, maka diputuskan operasi penyerangan pada malam itu dibatalkan.

Segera diberitahukan kepada semua anggota untuk mundur untuk mengatur strategi baru yang cocok. Ketika melihat Khabbab sedang tertidur, sang amir jadi terheran-heran. Bisa bisanya orang ini tidur di tempat yang sangat berbahaya seperti ini. Padahal semuanya diselimuti perasaan takut akan ketahuan musuh.

Maka digoncang-goncangkan tubuh Khabbab oleh Abu Adil.

“Bangun yaa Khabbab,” suara Abu Adil lirih disertai goncangan tangannya berusaha membangunkan. Tapi ia sangat susah dibangunkan, dia tidak juga terbangun.

Tak habis akal, Abu Adil membekap mulut dan hidung Khabbab dengan tangannya. Ddibekapnya dengan sekuat tenaga, hingga nampaknya Khabbab sesak kehabisan nafas. Akhirnya bangun juga khabbab dengan cara ini.

Setelah bangun, maka pasukan meninggalkan tempat tersebut untuk mundur ke belakang. Kejadian itu membuat amir geleng-geleng kepala sendiri mengingat kelakuan lucu Khabbab.

Tak berhenti sampai disini saja peristiwa lucu akibat kebiasaan buruk Khabbab.

Pernah suatu saat, Khabbab diberi giliran jaga untuk menjaga markas Mujahidin. Dia mendapat giliran jaga di awal malam. Kebiasaan yang berlaku dalam giliran jaga tersebut adalah, orang yang mendapat giliran jaga akan membangunkan temannya yang beristirahat untuk bergantian giliran jaga. Setiap giliran biasanya antara 2 sampai 3 jam.

Khabbab menjadi orang pertama di awal malam tersebut untuk menjaga keamanan markas. Jam berlalu begitu lambat, malam yang sunyi, dan angin malam yang dingin menusuk, akhirnya membuat Khabbab terjatuh dalam dunia mimpinya. Sampai-sampai khabbab baru terbangun oleh sinar matahari.

Kacau sekali keadaan waktu itu, semalaman markas tidak dijaga, seluruh Mujahid tertidur tanpa ada yang membangunkan dan mereka juga kesiangan.

Amir menjadi marah atas peristiwa tersebut, tapi apa hendak dikata, memang kebiasaan buruk Khabbab ini bukan hal yang disengaja. Mereka hanya bisa tersenyum menanggapi si tukang tidur ini.

Amir akhirnya membuat kebijaksanaan mengenai Khabbab. Di antaranya adalah: Khabbab tidak diberikan jam kerja malam, baik itu perang ataupun ribath, Khabbab diberi pekerjaan hanya di siang hari. Subhanallah, Khabbab bekerja sangat rajin di siang hari, dan termasuk dalam jajaran orang yang sangat sibuk. Tapi dalam kesibukannya tersebut, selalu tersirat senyuman yang sangat manis.

Kebijakan seorang amir yang jitu untuk menempatkan anggota sesuai dengan potensi yang dimiliki dan juga kelemahannya membuat perjalanan Jihad ini berjalan sangat indah.

– See more at: https://www.arrahmah.com/news/2016/08/19/kisah-dari-bumi-jihad-syam.html#sthash.DIsUpuz7.dpuf

Teguran, Saya Menangis dan Malu Baca Cerita Ini…

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yg itu brp Pak?”. Continue reading…

Kisah pernikahan terindah; izinkan aku menjadi suaminya di Surga

Di kota Suffah tinggalah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke 35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid tengah mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid kaget dan menjawabnya dengan gugup. “Wahai saudaraku Zahid. Selama ini engkau tampak sendiri saja.” Sapa Rasulullah.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah,”jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih melajang? Apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah?” tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat. Siapa wanita yang mau denganku?”

“Mudah saja kalau kau mau!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun segera diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba disana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasul yang mulia,” kata Zahid.

Said menjawab, “ini adalah kehormatan buatku.”

Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terperanjatnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran, karena dalam tradisi Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan yang kaya juga. Itulah yang dinamakan “sekufu”(sederajat).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah, mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk?”

“Anakku, ia adalah pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid. Ia pun menangis sejadi-jadinya.

“Ayah, banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya. Semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah bila lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasulullah disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah?”

Said pun menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah. “

Serta merta Zulfah mengucap Istighfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu Rasulullah. Kalau begitu keadaannya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’.”(An-Nuur: 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?” Tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata,”Rasulullah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya ke rumah Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di mesjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataannya. Zahid bertanya,”Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya? “

Zahid pun beristighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda yang terbaik. “

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan hendak pergi juga? “ kata para sahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid menyitir ayat “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah:24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan tempur sampai ia gugur.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169-170 dan Al-Baqarah ayat 154

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-oorang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezaki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati. “

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para sahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.”

Demikian pintanya. Sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah, meski semula hati berontak.

Wallahu ‘alam…