Kisah Dari Bumi Jihad Syam

Sebuah kisah nyata dari bumi jihad syam. Kisah tentang seorang pemuda yang mengangkat senjata demi menegakkan izzah islam dan kaum muslimin. Koresponden arrahmah.com menjumpainya di sela-sela pertempuran di kota Aleppo, Suriah.

Ia bernama Khabbab Asy-Syami, seorang pemuda yang berasal dari Idlib. Pemuda ini berakhlaq baik dan juga sangat mudah dalam bergaul. banyak teman seperjuangannya mencintainya karenanya. Dan yang lebih membuat kedekatan diantara mereka, adalah Khabbab suka menghibur teman temannya tersebut dengan candaannya yang menghibur.

Kisah tentang Khabbab adalah kisah seorang pemuda yang berjihad akan tetapi mengangkat sisi yang unik dari seorang manusia.

Ada sebuah peribahasa, “tiada gading yang tak retak”, ungkapan bagi manusia yang tak sempurna dan memiliki kekurangan dalam hal tertentu.

Begitu juga Khabbab, sang Mujahid yang satu ini mempunyai banyak kelebihan, tapi juga punya kelemahan.

Kelemahan dari Khabbab ini adalah ia tidak bisa menahan tidurnya, dan juga susah sekali untuk dibangunkan bila sudah tidur. Orang biasa menyebutnya tidur kebo, untuk tidur yang seperti ini tingkat keparahannya. Hingga terjadi beberapa peristiwa lucu akibat dari kebiasaan buruknya ini.

Khabbab bercerita kepada koresponden arrahmah.com tentang peristiwa yang dialaminya semasa perang di pedesaan Khan Saikhun, provinsi Idlib, pada bulan Oktober tahun 2014 silam.

Kala itu Mujahidin melakukan penyerangan ke basis tentara Syiah rezim Bashar Asad, dan dengan karunia Allah Mujahidin mampu merebut sebuah wilayah dari kekuasaan tentara rezim Bashar Asad, yaitu sebuah desa di pinggiran Idlib yang menjadi markas komando tentara.

Setelah berhasil membebaskan sebuah wilayah, Mujahidin mengendalikan kontrol wilayah tersebut dengan mengadakan penjagaan (ribath) yang memakan waktu berhari-hari.

Khabbab sendiri ikut serta dalam operasi tersebut. Dengan taat dia melaksanakan tugasnya dalam peperangan dan juga ribath.

Tentunya bukanlah suatu hal yang mudah, jadwal kerja yang sangat pedat membuat seluruh Mujahidin lelah, hal ini di ketahui oleh komandan Mujahidin. Sehingga diambil kebijakan untuk ribath bergiliran seluruh anggota Mujahidin. Siapa yang telah selesai perang dan ribath, maka digantikan oleh anggota yang telah mendapat waktu istirahat. Bbegitulah kira kira kebijakan dari komandan Mujahidin.

Singkat cerita karena sudah melaksanakan tugasnya, maka Khabbab mendapatkan gilirannya untuk beristirahat di markas Mujahidin. Mereka menempati sebuah rumah kosong yang kemudian mereka bersihkan, dan selanjutnya mereka jadikan markas.

Nama dari markas itu adalah markas 45 Khan Saikhun.

Tentang nama markas 45 sendiri digunakan nama tersebut untuk mempermudah mengingat suatu nama tempat dan mempermudah panggilan komando.

Markas ini adalah sebuah bangunan berlantai 2, yang ditinggalkan pemiliknya karena perang, yang memiliki banyak ruangan, baik ruangan atas maupun di bawahnya.

Suasana malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Jika hari-hari biasanya malam terasa sunyi senyap, tapi malam itu dipenuhi dentuman bom dari tentara rezim.

Hal itu disebabkan Karena mereka kehilangan daerah yang dikuasainya, tentara rezim berusaha menghancurkan markas-markas Mujahidin dengan serangan udara mereka. Alhasil dari pengumpulan data udara, terlacaklah markas 45 Khan Saikhun.

Lewat tengah malam, angkatan udara rezim Asad menerbangkan 2 helikopter untuk menggempur markas 45. Setiap helikopter membawa 3 bom barmil berkekuatan ledak tinggi, dan diperkirakan 1 barmil itu berbobot lebih dari 100 kg. Sebuah senjata pemusnah yang mengerikan.

Kedua helikopter tersebut bergerak menuju ke arah markas 45 Khan Saikhun. Untungnya pergerakan helikopter ini segera diketahui oleh Mujahidin, di sebabkan oleh suara helikopter di udara yang mendekat ke arah markas.

Para ikhwah Mujahidin berteriak kepada teman-temannya yang di dalam markas untuk segera bangun dan meninggalkan markas, karena bahaya mengancam keselamatan mereka. Jumlah mereka kala itu sekitar 20 orang dan Khabbab ada di antara mereka.

Karena dirasa teriakan untuk membangunkan sudah sangat keras, dan dikira semua sudah keluar dari markas, maka komandan regu memberitahukan kepada mereka untuk menyebar mencari tempat perlindungan yang jauh dari markas.

Akan tetapi teriakan keras teman-temannya tak mampu untuk membangunkan Khabbab. Dia masih saja tertidur pulas di salah satu ruangan di lantai bawah markas 45.

Persis sesaat kemudian, selepas Mujahidin berpencar untuk mencari perlindungan, helikopter menjatuhkan semua bom barmilnya ke arah markas 45 Khan Saikhun.

Sebuah pemandangan mengerikan dimana bangunan tersebut dihujani 6 bom barmil sekaligus, untuk melumatkan bangunan tersebut. Markas 45 Khan Saikhun rubuh ke tanah diterpa bom barmil helikopter tentara rezim.

Selepas helikopter pergi menjauh, Mujahidin memeriksa keadaan markas untuk menyelamatkan barang yang masih bisa di selamatkan.

Komandan regu sendiri sibuk mengecek jumlah pasukan yang ada di markas. Sang komandan mulai mengumpulkan anggotanya untuk diketahui keadaan dan keselamatannya. pengecekan berubah menjadi kepanikan saat disebutkan nama Khabbab. Semua ikhwah saling bertanya di mana keberadaannya, sahut menyahut memanggil namanya berharap mendapat jawab dari Khabbab.

Maka dicarilah Khabbab oleh para ikhwah di bawah reruntuhan markas. Semua ikhwah bahu-membahu untuk mencari Khabbab di bawah reruntuhan bangunan. Hampir seluruh ruangan di markas tersebut hancur dan rubuh ke tanah, tapi ada sebuah ruangan yang masih agak utuh. Ruangan tersebut ada di lantai bawah dari bangunan tersebut.

Salah satu ikhwah masuk ke dalam ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Khabbab. Diselimuti debu hitam yang sangat pekat dan aroma sisa bahan peledak yang menyengat, sang ikhwah menyingkirkan sisa sisa robohan bangunan.

Akhirnya di temukannya sesosok jasad yang tertimbun tebalnya debu hitam dan kerikil. Jasadnya terlihat masih utuh tanpa luka yang berarti. Sang ikhwah mulai membersihkan muka dari jasad tersebut, dan tampaklah muka Khabbab terbujur kaku layaknya orang yang meninggal dunia. Seketika pecahlah suasana hening di reruntuhan bangunan itu.

Derai tangis sahabat Khabbab dan teriakan takbir menyeruak menyambut gugurnya syuhada.

“Khabbab syahid! Khabbab syahid! Khabbab syahid!” Teriakan para ikhwah sambil menggotong jenazah Khabbab.

Mobil ambulans yang beberapa saat sesudah kejadian dipanggil oleh Mujahidin, segera mempersiapkan mengangkut Khabbab ke RS. Kemudian dengan didampingi beberapa temannya, jenazah Khabbab segera meluncur pergi dari tempat kejadian. Mobil ambulans melesat dengan sangat kencangnya disertai riungan sirine .

Akan tetapi perjalanan di Suriah bukanlah seperti perjalanan di negeri aman, jalan-jalan di negara ini sangatlah buruk pasca terjadinya perang. Banyak sekali lubang di jalan dan sebagian aspal terkelupas. Tiba di suatu lubang yang dalam, sang supir ambulans telat menginjak rem dan terjadilah goncangan yang keras pada mobil ambulans tersebut.

Jasad Khabbab terpelanting dari ranjang ambulans. Mata Khabbab terbuka, dan berteriak: “Aduh, dimana saya?” Sambil wajahnya memandang ke segala penjuru.

Sontak seluruh teman terkejut dengan peristiwa itu. Bagaimana mungkin mayat yang telah mati bisa hidup kembali. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama, berubah menjadi ledakan tawa. Menertawakan Khabbab yang dikira sudah mati, ternyata hanya tertidur.

Salah seorang teman kemudian bertanya kepada Khabbab;

“Hai Khabbab, kamu tadi dengar nggak suara ledakan barmil?”

Khabbab menjawab, disertai senyum meringis: “Tidak tuh!”

Jawaban itu membuat temannya semakin tertawa lebar, seakan tidak percaya ada orang yang masih tetap tertidur pulas saat dihujani bom barmil.

Selanjutnya Khabbab juga menceritakan tentang suatu peristiwa peperangan, dimana dia ikut andil menyertai peperangan tersebut. Ghazwah Masyasna (perang Masyasna). Adalah nama perang yang dinisbatkan terhadap nama suatu desa di pinggiran provinsi Hama, dimana Mujahidin mulai merangsek maju untuk merebut Hama secara keseluruhan, yang dimulai dari pinggiran provinsinya.

Strategi yang dipakai oleh Mujahidin dalam peperangan ini adalah peperangan senyap. Dengan kekuatan beregu yang mengendap tanpa terdeteksi musuh, maju hingga ke pos-pos pertahanan mereka, dan menyerang secara kilat.

Cara ini dipilih oleh amir asykari Mujahidin mengingat cocoknya lokasi dengan cara ini, dan keuntungan dari strategi ini amatlah besar. Maka dipersiapkanlah satuan regu untuk menyusup ke jantung pertahanan musuh tanpa suara sedikitpun.

Sebagai pemimpin dalam satuan tersebut adalah Abu Adil (seorang komandan yang berpengalaman). Dia membawahi beberapa Mujahid yang terpilih dalam operasi tersebut. Setelah diadakan seleksi, maka terkumpullah Mujahidin pilihan yang dianggap mampu untuk menyelesaikan tugas berat ini. Dan ternyata Khabbab masuk dalam jajaran orang yang terpilih.

Tanpa membuang banyak waktu untuk pelaksanaan operasi tersebut, Abu Adil segera membawa regu pasukannya untuk masuk ke jantung pertahanan tentara musuh. Mmereka berjalan sangat hati-hati hingga tidak mengeluarkan suara, kadang harus berhenti untuk memantau kondisi, terkadang pula harus merayap demi menghindari pandangan musuh yang berjaga-jaga.

Selangkah demi selangkah, akhirnya sampai juga mereka tepat di depan doshma (bunker) musuh. Persisnya adalah sebuah gundukan tanah yang dibuat setinggi 2 meter, membentang luas memagari suatu wilayah.

Sang amir menyuruh seluruh anggotanya untuk berbaring di tepian doshma, dan mengutus salah satu anggotanya untuk masuk mengecek keadaan di dalam wilayah musuh.

Maka berangkatlah sang utusan pengintai tersebut untuk masuk ke dalam wilayah musuh, serta akan memberi kabar nantinya tentang posisi pertahanan musuh yang akan diserang.

Waktu berjalan, detik ke detik berlalu sampai akhirnya lewat beberapa jam. Regu pasukan menunggu dengan cemas kabar dari tim pengintai. Sambil berbaring di gundukan tanah, mereka saling berdoa dan berharap keselamatan.

Tapi rupanya berbeda dengan Khabbab, dia tertidur pulas karena tidak mampu menahan rasa kantuknya. Posisi berbaring nampaknya membuatnya terbang ke alam mimpi.

Yang ditunggu akhirnya datang juga, tim pengintai mengabarkan bahwa posisi musuh sangatlah kuat. Dan tidak memungkinkan untuk mengadakan operasi pada malam tersebut. Setelah berdiskusi sejenak dengan Abu Adil sebagai pimpinan regu, maka diputuskan operasi penyerangan pada malam itu dibatalkan.

Segera diberitahukan kepada semua anggota untuk mundur untuk mengatur strategi baru yang cocok. Ketika melihat Khabbab sedang tertidur, sang amir jadi terheran-heran. Bisa bisanya orang ini tidur di tempat yang sangat berbahaya seperti ini. Padahal semuanya diselimuti perasaan takut akan ketahuan musuh.

Maka digoncang-goncangkan tubuh Khabbab oleh Abu Adil.

“Bangun yaa Khabbab,” suara Abu Adil lirih disertai goncangan tangannya berusaha membangunkan. Tapi ia sangat susah dibangunkan, dia tidak juga terbangun.

Tak habis akal, Abu Adil membekap mulut dan hidung Khabbab dengan tangannya. Ddibekapnya dengan sekuat tenaga, hingga nampaknya Khabbab sesak kehabisan nafas. Akhirnya bangun juga khabbab dengan cara ini.

Setelah bangun, maka pasukan meninggalkan tempat tersebut untuk mundur ke belakang. Kejadian itu membuat amir geleng-geleng kepala sendiri mengingat kelakuan lucu Khabbab.

Tak berhenti sampai disini saja peristiwa lucu akibat kebiasaan buruk Khabbab.

Pernah suatu saat, Khabbab diberi giliran jaga untuk menjaga markas Mujahidin. Dia mendapat giliran jaga di awal malam. Kebiasaan yang berlaku dalam giliran jaga tersebut adalah, orang yang mendapat giliran jaga akan membangunkan temannya yang beristirahat untuk bergantian giliran jaga. Setiap giliran biasanya antara 2 sampai 3 jam.

Khabbab menjadi orang pertama di awal malam tersebut untuk menjaga keamanan markas. Jam berlalu begitu lambat, malam yang sunyi, dan angin malam yang dingin menusuk, akhirnya membuat Khabbab terjatuh dalam dunia mimpinya. Sampai-sampai khabbab baru terbangun oleh sinar matahari.

Kacau sekali keadaan waktu itu, semalaman markas tidak dijaga, seluruh Mujahid tertidur tanpa ada yang membangunkan dan mereka juga kesiangan.

Amir menjadi marah atas peristiwa tersebut, tapi apa hendak dikata, memang kebiasaan buruk Khabbab ini bukan hal yang disengaja. Mereka hanya bisa tersenyum menanggapi si tukang tidur ini.

Amir akhirnya membuat kebijaksanaan mengenai Khabbab. Di antaranya adalah: Khabbab tidak diberikan jam kerja malam, baik itu perang ataupun ribath, Khabbab diberi pekerjaan hanya di siang hari. Subhanallah, Khabbab bekerja sangat rajin di siang hari, dan termasuk dalam jajaran orang yang sangat sibuk. Tapi dalam kesibukannya tersebut, selalu tersirat senyuman yang sangat manis.

Kebijakan seorang amir yang jitu untuk menempatkan anggota sesuai dengan potensi yang dimiliki dan juga kelemahannya membuat perjalanan Jihad ini berjalan sangat indah.

– See more at: https://www.arrahmah.com/news/2016/08/19/kisah-dari-bumi-jihad-syam.html#sthash.DIsUpuz7.dpuf

Teguran, Saya Menangis dan Malu Baca Cerita Ini…

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yg itu brp Pak?”.

“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

Oleh : Ust. Aidil Heryan

Beribadah di Zaman Fitnah

Nabi saw mengabarkan bahwa pada akhir zaman, akan muncul berbagai fitnah (berbagai hal yang dapat memalingkan manusia dari agama Allah) dan kekacauan. Seperti yang terdapat dalam hadis-hadis berikut,

عن أبي هريرةَ – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: يتقارب الزمان، ويُقْبَضُ العِلمُ، وتظهر الفتنُ، ويُلْقَى الشُّحُّ، ويَكثُرُ الهَرْجُ))، قالوا: وما الهَرْجُ؟ قال: القتل

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Waktu akan menjadi dekat, ilmu dicabut, aneka fitnah bermunculan, kekikiran merebak dan al harju kian banyak.” Mereka berkata, “Apa yang dimaksud dengan al harju?” beliau bersabda, “Pembunuhan.” (HR Bukhari Muslim)

عن أبي وائل، قال: كنتُ جالسًا مع عبدالله وأبي موسى، فقالا: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((إن بين يَدَيِ الساعةِ أيامًا، يُرفَعُ فيها العلمُ، وينزلُ فيها الجهلُ، ويَكثُرُ فيها الهَرْجُ))، والهَرْجُ القتلُ

Dari Abu Wail, aku pernah duduk bersama Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dekat hari kiamat akan ada hari-hari dimana ilmu diangkat, kebodohan merebak dan al harju kian banyak.” Al harju adalah pembunuhan. (HR Bukhari Muslim)

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: ((لا تقوم الساعة حتى يَفِيض المال، وتظهر الفتن، ويكثر الهَرْج))، قالوا: وما الهَرْج يا رسول الله؟ قال: ((القتل، القتل، القتل)) ثلاثًا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga terjadi harta yang melimpah, beragam fitnah muncul al harju merebak.” Mereka berkata, “Apa yang dimaksud dengan al harju wahai Rasulullah?” beliau bersabda, “Pembunuhan, pembunuhan, pembunuhan.” Tiga kali. (HR Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)

Itulah kabar dari seorang yang lisannya selamat dari hawa nafsu, yang benar dan dibenarkan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita fenomena yang akan terjadi pada akhir zaman. Beragam fitnah akan muncul dan kekacauan akan timbul disebabkan perilaku manusia yang kian buruk, ilmu semakin sedikit dan yang merebak adalah kebodohan.

Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah memberi kabar gembira bahwa ibadah di zaman itu berpahala sangat besar dan bernilai amat tinggi.

عن مَعْقِل بن يَسَار – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: العبادة في الهَرْج كهجرة إليَّ

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibadah dalam zaman harju seperti hijrah kepadaku.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beramal dalam masa harju seperti hijrah kepadaku.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Ibadah di zaman fitnah seperi hijrah kepadaku.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Imam Nawawi dalam “Syarh Muslim” (18/88) berkata, “Sabda beliau, “Ibadah di zaman harju seperti hijrah kepadaku.” Makna al harju adalah fitnah dan samarnya urusan-urusan manusia. Ibadah di zaman itu memiliki keutamaan yang banyak karena rata-rata manusia lalai dari urusan ibadah dan sibuk dengan urusan yang lain. Hanya sedikit saja yang benar-benar mengisi waktunya dengan ibadah.”

Ibnu Hajar dalam “Fathul Baary” (13/75) berkata, “Al Qurthuby berkata, “Sesungguhnya fitnah dan kesulitan yang berat akan terjadi hingga urusan agama menjadi ringan, perhatian kepadanya kian sedikit. Setiap orang hanya memperhatikan urusan dunia dan kehidupan pribadinya serta yang berkaitan dengannya, oleh karena itu, kedudukan ibadah menjadi agung dalam masa-masa fitnah.”

Dalam kitab Tathriiz Riyaadh As Shahilihin (1/747), Al Qurthuby berkata, “Orang yang berpegang teguh di masa itu, dan benar-benar menyibukkan diri dengan ibadah, menjauhi manusia, ganjarannya seperti ganjaran orang yang berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ia seperti orang yang berhijrah menyelamatkan agamanya dari orang-orang yang menghalanginya untuk bergabung bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula orang yang menyibukkan diri dengan ibadah, ia seperti orang yang lari dari manusia menyelamatkan agamanya untuk beribadah kepada Rabbnya. Pada hakikatnya, ia berarti telah berhijrah kepada Rabbnya dan lari dari seluruh makhluk-Nya.”

Al Munawi dalam “Faidhul Qadir” (4/373) berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ibadah dalam al harju.” Maksudnya adalah masa bermunculan fitnah dan kesamaran dalam berbagai urusan.”

“Seperti hijrah kepadaku.” Maksudnya dalam hal pahalanya yang banyak. Atau, orang yang berhijrah dahulu hanya sedikit, karena kebanyakan manusia tidak mampu melakukannya. Begitu pun orang yang beribadah dalam masa al harju sedikit yang melakukannya.”

Ibnul Araby berkata, “Sisi persamaannya dengan hijrah adalah bahwa masa dahulu orang-orang lari dari negeri kufur dan meninggalkan penduduknya kepada negeri iman dan bergabung dengan penduduknya. Ketika terjadi fitnah, maka seharusnya bagi seseorang untuk membawa lari agamanya dari fitnah kepada ibadah, meninggalkan orang-orang itu dan kehidupan mereka. Maka ia adalah salah satu bentuk hijrah.”

Ibnul Jauzy dalam “Kasyful Musykil min Hadiits Ash Shahihaini” (2/42) berkata, “Al hajru adalah peperangan dan kesamaran. Jika fitnah melanda, hati menjadi sibuk, jika seorang hamba sibuk beribadah pada saat itu, hal ini menunjukkan kuatnya hati hamba tersebut dengan Allah azza wa jalla, sehingga ganjaran ibadahnya menjadi besar.”

Al Hafidz Ibnu Rajab berkata, “Sebab dari semua itu adalah bahwa manusia di zaman fitnah lebih cenderung mengikuti hawa nafsunya dan tidak kembali kepada agama, maka keadaan mereka seperti keadaan orang-orang jahiliyyah. Jika diantara mereka ada orang yang berpegang teguh dengan agamanya, beribadah kepada Tuhannya, mengikuti perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dimurkai-Nya, maka kedudukannya seperti orang yang berhijrah dari masyarakat jahiliyyah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya beriman, mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.”

Wallahu ‘alam…

Kisah Pernikahan Terindah; Idzinkanku Menjadi Suaminya Di Syurga

Di kota Suffah tinggalah seorang pemuda bernama Zahid. Ia hidup pada zaman Rasulullah. Setiap hari ia tinggal di Masjid Madinah. Zahid memang bukan pemuda tampan. Di usianya yang ke 35, ia belum juga menikah.

Suatu hari, ketika Zahid tengah mengasah pedangnya, tiba-tiba Rasulullah datang dan mengucapkan salam kepadanya. Zahid kaget dan menjawabnya dengan gugup. “Wahai saudaraku Zahid. Selama ini engkau tampak sendiri saja.” Sapa Rasulullah.

“Allah bersamaku, wahai Rasulullah,”jawab Zahid.

“Maksudku, mengapa selama ini engkau masih melajang? Apakah tak ada dalam benakmu keinginan untuk menikah?” tanya beliau lagi.

Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah, aku ini lelaki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apalagi wajahku sangat tak memenuhi syarat. Siapa wanita yang mau denganku?”

“Mudah saja kalau kau mau!” kata Rasulullah menimpali.

Zahid hanya termangu. Tak lama kemudian Rasulullah memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat lamaran untuk melamar wanita bernama Zulfah binti Said. Ia anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan cantik jelita. Surat itupun segera diberikan kepada Zahid untuk kemudian diserahkan kepada Said. Setiba disana ternyata Said tengah menerima tamu. Maka usai mengucapkan salam, Zahid menyerahkan surat tersebut tanpa masuk ke dalam rumah.

“Said saudaraku, aku membawa surat untukmu dari Rasul yang mulia,” kata Zahid.

Said menjawab, “ini adalah kehormatan buatku.”

Surat itu dibuka dan dibacanya. Alangkah terperanjatnya Said usai membaca surat tersebut. Tak heran, karena dalam tradisi Arab selama ini, perkawinan yang biasanya terjadi adalah seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan pula. Orang yang kaya harus kawin dengan yang kaya juga. Itulah yang dinamakan “sekufu”(sederajat).

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”

Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong?”

Dalam suasana demikian, Zulfah datang dan bertanya, “Ayah, mengapa engkau tampak tegang menghadapi tamu ini? Apa tak lebih baik bila ia disuruh masuk?”

“Anakku, ia adalah pemuda yang sedang melamarmu. Dia akan menjadikan engkau istrinya,” kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid. Ia pun menangis sejadi-jadinya.

“Ayah, banyak pemuda yang lebih tampan dan kaya raya. Semuanya menginginkan aku. Aku tak mau, Ayah!” jawab Zulfah merasa terhina.

Said pun berkata kepada Zahid, “Saudaraku, engkau tahu sendiri anakku merasa keberatan. Bukannya aku hendak menghalanginya. Maka sampaikanlah kepada Rasulullah bila lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasulullah disebut sang ayah, Zulfah berhenti menangis dan bertanya, “Mengapa ayah membawa-bawa nama Rasulullah?”

Said pun menjawab, “Lelaki yang datang melamarmu ini adalah karena perintah Rasulullah. “

Serta merta Zulfah mengucap Istighfar berulang kali dan menyesali kelancangan perbuatannya itu. Lirih, wanita muda itu berkata kepada sang ayah, “Mengapa ayah tak mengatakannya sejak tadi bila yang melamarkan lelaki itu Rasulullah. Kalau begitu keadaannya, nikahkan saja aku dengannya. Karena aku teringat firman Allah, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung’.”(An-Nuur: 51).”

Hati Zahid bagai melambung entah ke mana. Ada semburat suka cita yang tergambar dalam rona wajahnya. Bahagia, itu yang pasti ia rasakan saat itu. Setiba di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?” Tanya Rasulullah.

“Alhamdulillah diterima, wahai Rasul,” jawab Zahid.

“Sudah ada persiapan?” tanya Rasulullah lagi.

Zahid menundukkan kepala sambil berkata,”Rasulullah, aku tidak memiliki apa-apa.”

Rasulullah pun menyuruhnya ke rumah Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf. Setelah mendapatkan sejumlah uang yang cukup, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan pernikahan. Bersamaan dengan itu Rasulullah menyeru umat Islam untuk berperang menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di mesjid, ia melihat kaum muslimin telah bersiap dengan persenjataannya. Zahid bertanya,”Ada apa ini?”

Sahabat menjawab, “Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita. Apakah engkau tidak mengetahuinya? “

Zahid pun beristighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu aku lebih baik menjual perlengkapan perkawinan ini dan aku akan membeli kuda yang terbaik. “

“Tetapi Zahid, malam nanti adalah bulan madumu. Apakah engkau akan hendak pergi juga? “ kata para sahabat menasehati.

“Tidak mungkin aku berdiam diri!” jawab Zahid tegas.

Lalu Zahid menyitir ayat “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah:24).

Akhirnya Zahid melangkah ke medan tempur sampai ia gugur.

Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan surat Ali Imran ayat 169-170 dan Al-Baqarah ayat 154

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-oorang yang gugur di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezaki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka dan mereka tidak bersedih hati. “

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) telah mati. Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Para sahabat pun meneteskan air mata. Bagaimana dengan Zulfah?

Mendengar kabar kematian Zahid, ia tulus berucap, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu. Andai aku tak dapat mendampinginya di dunia, izinkanlah aku mendampinginya di akhirat kelak.”

Demikian pintanya. Sebuah ekspresi cinta sejati dari dunia hingga akhirat. Cinta yang bersemi oleh ketaatan kepada titah Rasulullah, meski semula hati berontak.

Wallahu ‘alam…

 

Mantan tentara Kerajaan Belanda Yilmaz melatih jihad di Suriah

Redaktur asing dari program TV Nasional Belanda Nieuwsuur (NewsHour), Roozbeh Kaboly, menemukan seorang mantan tentara Angkatan Darat Kerajaan Belanda yang melatih jihad di Suriah pada halaman media sosialnya, Instagram, 8 bulan yang lalu.

Meskipun Instagram menonaktifkan akun tersebut segera setelah akun itu mulai menarik perhatian, Kaboly tetap berusaha melakukan kontak dengan sang pemilik akun. Pemilik akun itu adalah seorang mantan tentara yang begitu merasa terkejut dengan kegagalan Barat untuk menghentikan pembunuhan di Suriah. Dia pun keluar dari barisan tentara Belanda untuk bergabung dengan operasi jihad melawan Presiden Bashar Assad. Pria berkebangsaan Belanda-Turki ini bernama Yilmaz. Dia memakai seragam Tentara Belanda-nya saat dia melatih para pejuang asing dari Eropa dan seluruh dunia.

yilmaz
Kaboly begitu tertarik dan ingin mewawancarai Yilmaz, namun butuh waktu lama bagi Kaboly untuk bisa meyakinkan Yilmaz. Yilmaz tidak mudah memberi kepercayaannya kepada Kaboly dan menerima permintaannya untuk melakukan wawancara. Pada awalnya Yilmaz bahkan berusaha menyangkal bahwa dia berasal dari Belanda, untuk berjaga-jaga.

Ini adalah kali pertama mujahidin Belanda bersedia diliput di Suriah. Para reporter tidak memiliki keberanian untuk melakukan wawancara di sana. Mereka takut menjadi target di tengah konflik yang terjadi di Suriah. Mereka juga takut ada pihak yang menculik atau mengeksekusi mereka di tempat. Wawancara itu akhirnya dilakukan oleh seorang perantara di Suriah, karena dianggap terlalu berbahaya bagi Kaboly dan rekannya Jan Eikelboom untuk melaporkan dari wilayah konflik. Hasil wawancara berbahasa Inggris itu kemudian disiarkan dalam program Nieuwsuur.

“Kami  telah melaksanakan wawancara pertama dengan seorang mujahid Belanda, Yilmaz. Mantan tentara profesional ini kini berjihad di Suriah dan bahkan melatih mujahidin di sana. Sekitar 120 mujahidin Belanda kini tengah berada di Suriah melawan Assad dan demi menegakkan Daulah Islam. Mereka berangkat secara rahasia dan mengungkapkan bahwa sangat sedikit dari mereka yang kembali. Ini adalah name tag Tentara Belanda-nya. Dia memberikan ini kepada kami sebagai sebuah hadiah,” kata Kaboly sambil menunjukkan name tag Yilmaz.

Kaboly mencari dan menelusuri jejak mujahidin Belanda melalui internet dan menemukan Yilmaz. “Saya menggunakan frasa Arab dalam pencarian saya. Kemudian saya menemukan sebuah gambar dia di Suriah, mengenakan seragam Belandanya, dengan beberapa’pemberontak’ Suriah. Dia hampir terlihat seperti seorang komandan. Saya segera menandakan seragam dan barret Belandanya. Dia terlihat disiplin dan terlatih dengan baik,” ujar Kaboly.

“Dia sangat curiga pada awalnya. Dia bahkan mengelak bahwa dirinya seorang Belanda. Tapi saya meyakinkan dia bahwa kami adalah para reporter yang objektif, mencoba untuk membuat dia dan orang-orang seperti dia mengerti dengan lebih baik, dan perlahan-lahan dia mulai mempercayai saya.” Kaboly juga mengaku kesulitan meyakinkan Yilmaz, “Selama delapan bulan, saya menghubunginya terus setiap hari.”

Kaboly meyampaikan bahwa mujahid yang ramah itu akhirnya bersedia untuk berbicara dengan penyiar negara Belanda karena “dia ingin memperbaiki citra kita mengenai para prajurit Belanda di Suriah.”

Selain melatih mujahidin, dalam liputan ini Yilmaz juga telihat memimpin empat mujahidin lainnya melaksanakan shalat di tanah lapang. Yilmaz mengungkapkan kepada dunia untuk membuka mata, membuka hati dan melihat mujahidin di Suriah, agar menyadari bahwa begitu banyak orang yang datang ke sana untuk alasan-alasan yang benar. Mereka tidak berniat untuk pulang, bahkan menganggap Suriah sebagai rumah mereka.

Yilmaz-syam(2)
Yilmaz dulunya adalah seorang tentara profesional di Kerajaan Belanda. “Aku adalah tentara kelas dua. Kira-kira dua bulan sebelum aku dipromosikan, aku memutuskan pergi,” ungkapnya.

Mujahid Balanda itu terlihat seperti seorang pria biasa, seorang Belanda keturunan Turki. Dulu dia ingin bergabung dan menjalankan kegiatan militernya di Turki dan bergabung dengan tentara Belanda.

Kemudian Suriah mengubahnya, dan dia memutuskan untuk melatih kemampuan militernya di sana. Dia mengenakan seragam tentara Belandanya di Suriah, termasuk baretnya. Hanya saja badge-nya sudah dicopot dan diganti dengan kalimat Tauhid.

Dia mengatakan bahwa dia sedang berjuang untuk sebuah daulah Islam dan untuk membebaskan rakyat Suriah yang tertindas. Dia juga dengan tegas menolak klaim yang menyebut bahwa dia atau mujahidin pendatang lainnya berlatih keahlian menembak di Suriah karena memiliki kepentingan saat kembali ke negara asal mereka untuk melakukan serangan “teroris”.

Yilmaz-syam(1)
Yilmaz mengajarkan mujahidin di Suriah seputar penggunaan senjata dan cara menembak yang benar. Dia memberi arahan bagaimana cara memegang senjata dan membidik musuh. Dia juga mengajarkan mereka bagaimana seharusnya arah mata, posisi dengkul, dan sebagainya saat menembak musuh.

Yilmaz menyatakan bahwa dia mengajarkan saudara-saudaranya yang dia cintai. Dan dengan latar belakang dan pengalamannya, dia mengajarkan mereka hal-hal yang lebih spesifik, seperti kapan saat menembak yang tepat, kapan harus saling berkomunikasi, intinya agar mereka selalu mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Sesekali dia juga mengevaluasi hasil tembakan mujahidin saat mereka latihan.

Pertanyaan utama untuk mujahidin ialah apa tujuan mereka di Suriah. Yilmaz mengungkapkan bahwa tujuan mereka berada di sana adalah menemukan ridha Allah, “untuk menyelamatkan rakyat Suriah dari penindasan yang telah menderita selama dua setengah tahun, dan hampir tiga tahun sekarang. Hanya itu, tujuan kami ke sini adalah membebaskan rakyat Suriah.” Setelah itu Yilmaz pun menjawab pertanyaan demi pertanyaan berikutnya.

Nieuwsuur : Kalau yang mereka lakukan itu merupakan sesuatu yang baik, lalu mengapa mereka harus menutup wajah mereka?

Yilmaz : Mereka menutup wajah mereka, murni, untuk keamanan. Mereka sebenarkan akan senang menunjukan wajah mereka, menyatakan apa yang sedang mereka lakukan, namun mereka akan harus menerima konsekuensinya ketika mereka kembali ke rumah mereka. Mereka memikirkan keluarga mereka, misalnya, bagaimana nanti adikku menghadapi [konsekuensi] ini di sekolah. Mereka menyembunyikan wajah mereka selama di sini demi keluarga mereka.

N : Sebagian dari mereka (pihak Kerajaan Belanda-red), mungkin ada yang mengatakan apa yang kau lakukan, kau telah belajar dari kami dan memperoleh sejumlah keahlian dari kami, tapi sekarang kau malah mengajari mujahidin di sini. Jika ada orang yang berkata demikian, apa tanggapanmu?

Y : Jika mereka melatih pasukan dengan mengirim unit atau prajurit untuk membantu rakyat ini, aku akan menjadi orang pertama yang berangkat, dan banyak dari mereka yang tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi mengapa saat ada orang yang mau membantu orang-orang di sini dan membuat sebuh perubahan, malah dipermasalahkan?

N : Apakah kau memiliki keinginan untuk melakukan serangan di Belanda?

Y : Tidak, tidak. Aku datang ke Suriah hanya untuk Suriah. Aku datang ke Suriah untuk Suriah saja. Aku tidak datang ke Suriah untuk belajar bagaimana cara membuat bom, atau ini atau itu dan kemudian pulang kembali. Itu bukan mentalitas yang dimiliki oleh banyak pejuang ini di sini. Kami datang ke sini – pada dasarnya, dan aku tahu ini terdengar kasar, tapi banyak dari saudara-saudara di sini, termasuk diriku, kami datang ke sini untuk mati … Jadi, bahwa kami akan kembali bukanlah bagian dari perspektif kami di sini. Maksudku ini adalah pengorbanan besar dan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, jadi mengapa aku harus berpikir tentang Belanda atau Eropa? Itu adalah sebuah bab yang telah tertutup bagiku.

N : Apakah kau bagian dari Al-Qaeda? Jika ya, mengapa?

Y : Aku akan menjelaskan dulu bahwa, tidak setiap orang yang datang dari Eropa, atau dari manapun mereka datang, Asia, Eropa, atau Amerika, dari manapun, tidak secara otomatis mereka merupakan bagian dari Al-Qaeda. Sejumlah orang berpikir dia berangkat karena dia bodoh, dia berangkat karena merasa terganggu, dia berangkat karena dia emosi, dan sebagainya. Siapapun yang datang ke Suriah, disebut sebagai Al-Qaeda. Dalam kasusku, tidak ada hal seperti itu. Saudara-saudara dari Al-Qaeda, mereka di sini, mereka berjuang, itu diketahui, semua orang tahu ini. Tapi aku berada di sini di Suriah tidak berarti didefinisikan bahwa aku merupakan bagian dari Al Qaeda.

Aku rasa apa yang didambakan banyak orang di sini termasuk orang-orang Suriah itu sendiri adalah perlindungan dan pembelaan terhadap rakyat Suriah yang tidak bersalah, maksudku, setelah dua tahun, cukup sudah cukup, kapan ini akan berakhir. Saat aku bertemu dengan rakyat Suriah, mereka berusaha untuk tersenyum, namun pada saat yang sama mereka juga bertanya padaku, kapankah ini akan berakhir, kapan kami bisa pulang ke rumah.

Yilmaz menyampaikan bahwa negara-negara Barat telah gagal untuk campur tangan untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah. Itu juga menjadi alasan utama bahwa dia dan mujahidin Islam lainnya ingin mendirikan daulah Islam di Suriah.

Y : Jadi hal pertama dan yang paling utama ialah bisa membawa orang-orang ini pulang ke rumah mereka. Hal kedua yang juga penting di sini adalah Hukum Islam. Kami mengharapkan hukum Allah di atas segalanya, kita selama ini menggunakan hukum barat. Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri apa yang Barat lakukan dalam situasi krisis seperti ini. Kami tidak menginginkan ini [hukum Barat] lagi. Sedangkan Daulah yang dibangun di atas prinsip-prinsip Islam akan selalu membela hak-hak orang yang tak bersalah. Itulah yang kami inginkan.

Mantan tentara itu juga mengatakan bahwa pemirsa televisi Belanda harus memahami bahwa mereka tidak memiliki alasan untuk takut kepadanya, bahkan jika dia harus kembali ke rumah.

N : Mungkin ada sebagian orang di Belanda yang berharap kau akan berhenti melatih mujahidin, kau akan kembali pulang suatu hari nanti. Mereka mungkin khawatir terhadapmu. Apa tanggapanmu?

Y : Mengenal situasi di Belanda, mereka harusnya khawatir tentang hal-hal lain, [seperti] dengan para penjahat dan pedofil yang berkeliaran di jalanan, tapi aku mengerti ketakutan mereka, Anda tahu, tidaklah aku memiliki dinding [pemisah] dan aku tidak mengerti mengapa orang-orang ini takut. Jangan cemaskan aku. Aku telah memilih jalan ini untuk diriku sendiri, dan bahkan jika … jika … aku akan kembali, aku hanya akan makan … mungkin beberapa sushi … dan memberikan ibuku sebuah pelukan yang sangat hangat, duduk bersama keluarga. Aku tidak pernah menjadi orang yang kejam terhadap orang-orang yang tidak melakukan kekerasan terhadapku.

Di tengah perjuangan di Suriah, Yilmaz tidak memutus hubungan dengan keluarganya di Belanda. Dia berkomunikasi dengan keluarganya via Skype. Dalam liputan itu, Yilmaz juga terlihat tengah menghubungi keluarganya. Sesekali dia tertawa di depan laptopnya, terlihat begitu senang bisa menghubungi keluarganya. “Aku akan senang seandainya kalian bisa melihatku juga, tapi koneksi Suriah tidak lancar,” katanya.

Mereka menobrol dengan santai. Keluarga Yilmaz mengatakan, “Suaranya sedikit tidak jelas. Dan aku kira aku akan bisa melihat jenggotmu, tapi ternyata tidak.”

Yilmaz tertawa mendengarnya, “Lupakan, lupakan. Koneksinya benar-benar terganggu di sini. Apa kau sedang berada di dapur? Kau sedang berada di dapur kan?”

Keluarganya menjawab, “Jaringan internetnya lebih bagus di dapur.”

Yilmaz tersenyum dan kembali bertanya, “Di mana ibumu? Di mana bibi? Tolong, panggilkan dia.

Sang bibi menyambutnya, “Sudah lama sekali.”

“Ya, Bibi,” jawab Yilmaz, tersenyum.

“Memalukan sekali kami tidak bisa melihatmu,” kata bibinya.

“Ya, aku juga ingin sekali, tapi koneksi di Suriah benar-benar tidak bekerja,” ungkap Yilmaz.

Seorang lainnya, yang sepertinya adalah pamannya, mengajaknya bercanda, “Ini hanya… Jadi, tak ada Ziggo [operator terbesar di Belanda] di sana.”

“Ya, kami membutuhkan Ziggo di sini. Kirimkanlah pamanku, Ziggo, Ziggo, haha…”

“Aku mendapatkan ini dari Belanda,” kata Yilmaz sambil memegang sekantung besar permen cokelat. “Satu pak pesta, ya dua kilo, haha… Alhamdulillah. Ini adalah hal-hal kecil.”

“Apa mereka membayarmu dengan [permen cokelat] M&Ms?” tanya pamannya kembali bergurau, disambut dengan pecahnya tawa Yilmaz.

ar4
Selain tetap berhubungan dengan keluarganya di rumah di Belanda via Skype, mantan tentara Belanda ini juga berusaha untuk menggunakan jejaring sosial untuk berbagi dengan para pengikut di Barat dan mendokumentasikan pengalamannya dalam pertempuran untuk Suriah. Yilmaz juga memposting beritanya dari medan jihad melalui Tumblr, dan merespon pertanyaan serta masukan dari para penggemar dan kritikus di Ask.fm.

Ada banyak update baru-baru ini di Tumblr termasuk gambar anak-anak yang terlantar atau yatim piatu akibat pertempuran – dilengkapi dengan video klip singkat pertempuran, adegan kehidupan sehari-hari di kota-kota yang telah hancur, dan potret para pejuang Islam dan kucing-kucing mujahidin. Gambar-gambar tersebut semakin memperkuat pesan bahwa mujahidin terlibat dalam perang defensif di Suriah dan tetap melindungi warga sipil, Barat yang telah ditinggalkan.

ar2

 

ar
Dalam posting blog-nya Yilmaz juga menyampaikan kata-kata pujian untuk saudara-saudara mujahidin lainnya yang berjihad di Syam, yang dianggap sebagai “ekstremis berbahaya” oleh sejumlah pihak sekuler. Selain itu, Yilmaz juga menyampaikan secara tajam, pengecamannya terhadap para pengikut Sufi dan Syiah. (banan/arrahmah.com)

– See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/02/06/masyaallah-mantan-tentara-kerajaan-belanda-yilmaz-melatih-jihad-di-suriah.html#sthash.Wz996qP4.dpuf

Doa memohon keteguhan iman dan kebulatan tekad

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan kepada kami beberapa kalimat doa untuk kami baca dalam shalat kami atau selesai shalat kami, yaitu:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَأَسْأَلُكَ عَزِيمَةَ الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ “

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara (keimanan), aku memohon kepada-Mu tekad bulat yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon ampunan-Mua atas (dosa-dosaku) yang Engkau pasti mengetahuinya, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau pasti mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau pasti mengetahuinya.” (HR. Ahmad no. 17133, Tirmidzi no.3407, An-Nasai no. 1304, Ibnu Hibban no. 935, Ath-Thabarani no. 7157 dan lain-lain. Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: Hadits hasan dengan banyaknya sanadnya)

(muhibalmajdi/arrahmah.com)